Cakrawala News
Portal Berita Online

Blue Life, Penyelamatan Lingkungan Dari Warga Republik Ceko

8
Seorang Relawan Mengutip Plastik Di Pulau Bangkaru

ACEH, CAKRAWALA.CO– Blue Life adalah nama program pembersihan sampah plastik dan upaya-upaya penyelamatan alam serta pendidikan lingkungan yang dirintis oleh Milan Jeglik, warga negara Republik Ceko di Gugusan Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.

Program ini adalah lanjutan dari program Green Life yang dirintis Milan dan Zuzana sekitar 7 tahun lalu di Desa Batu Katak, Bahorok, Sumatera Utara, sebuah desa paling ujung Bahorok yang kini berubah wajah menjadi areal objek ekowisata, berkat sentuhan tangan dingin mereka bersama tokoh lingkungan setempat, Ali Rusli dan warga lokal, atas nama kepedulian pada penyelamatan lingkungan.

Di Batu Katak yang merupakan pinggiran Taman Nasional Gunung Leuser ini, tim Green Life bahkan sudah menyewa hutan lebih dari 100 Hektar untuk waktu sewa 50 tahun, dan diareal hutan sewaan yang masih asri inilah kegiatan-kegiatan perlindungan alam dan pemantauan satwa-satwa mereka lakukan.

Mereka berusaha menjaga keseimbangan alam dan kealamian hutan dengan membuat berbagai program, mulai dari bekerjasama dengan masyarakat lokal untuk membersihkan lingkungan dari sampah plastik, melakukan pemantauan satwa dengan kamera trap, hingga mengedukasi para pemuda dan siswa setempat tentang pentingnya menjaga ekosistem.

Berkat kerja tim yang gigih dan sungguh-sungguh, program-program kegiatan perlindungan alam dan satwa yang selama ini mereka laksanakan pun kini berlisensi Smart Patrol.

SMART (Spartial Monitoring And Reporting Tool) yang dulunya dipakai di Thailand dan Kamboja ini adalah modul dan sofware untuk komunitas-komunitas konservasi yang berguna untuk menyatukan kekuatan informasi dan akuntabilitas, untuk mengarahkan sumber daya yang dimiliki ke wilayah-wilayah yang paling terancam.

Dengan SMART ini kegiatan dari program-program Green Life kini jadi lebih terarah dan tepat sasaran.

Berangkat dari kesuksesan di Desa Batu Katak, Milan bersama Zuzana dan asistennya Zbynek Hrabek pun akhirnya membuat program serupa di gugusan Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.

Berawal dari kunjungan mereka ke Pulau Banyak beberapa tahun yang lalu, mereka akhirnya jatuh cinta pada keindahan alam nan eksotis yang di suguhkan puluhan pulau di Gugusan Kepulauan Banyak, menurut Zbynec dimata mereka Pulau Banyak amat lah menawan, seperti surga, namun sayang sampah plastik yang berpotensi merusak ekosistem begitu banyak ditemukan tersebar diwilayah ini, “Kami berpikir bagaimana mungkin tempat seindah ini begitu banyak sampah yang bisa berdampak buruk bagi ekosistem, kami merasa harus melakukan sesuatu”, kata Zbynec menceritakan awal-awal program Blue Life lahir.

Untuk dua tahun pertama program yang mereka kerjakan adalah membersihkan sampah plastik dari Pulau Sikandang dan Pulau Bangkaru yang merupakan wilayah konservasi, selain itu sesekali mereka juga melibatkan warga dan siswa di Pulau Haloban yang merupakan salah satu pulau terbesar di gugusan Kepulauan Banyak, “Dalam waktu dekat kami akan membuat program Mata Bumi, salah satu program pendidikan lingkungan yang sasaran utamanya adalah pelajar”, ungkap Zbynec.

Mereka juga mensupport penduduk setempat dengan berbagai bantuan, seperti menyediakan goni untuk wadah sampah, membiayai pembelian tong-tong sampah, menyediakan kapal untuk mengangkut sampah ke daratan, dan sejumlah bentuk dukungan lainnya, “Setiap dua minggu sekali kami membawa goni sampah ini ke daratan bersama kapal yang mengangkut volunteers”, lanjut Zbynec berkisah.

Tak cukup disitu, tim Blue Life ingin berbuat lebih, dalam waktu dekat program monitoring dan penyelamatan penyu di Pulau Bangkaru pun rencananya akan mereka lakukan, dengan melibatkan Yayasan Save Aceh Nature, sebuah lembaga lingkungan lokal bentukan Darmawan, tokoh pariwisata setempat, “Informasi terakhir yang kami terima, kami sudah mendapatkan persetujuan dari Kementerian, dan sekarang dalam proses penyusunan MOU”, jelas Darmawan, menceritakan perkembangan rencana mereka.

Rencananya kegiatan ini nantinya akan dibiayai Blue Life, “Sama seperti program sebelumnya, sumber dana kami bukan dari lembaga, bukan dari pemerintahan atau perusahaan, tapi donasi dari sekolah-sekolah dan masyarakat biasa”, cerita Darmawan, menjelaskan.

Sumber dana untuk membiayai kegiatan dan program-program yang selama ini telah dilakukan tim Green Life dan Blue life adalah berasal dari donasi sekolah-sekolah dan masyarakat biasa di Republik Ceko yang peduli terhadap lingkungan, “Keuangan kami lebih stabil, karena dana kami tidak berasal dari pemerintah, perusahaan, lembaga, mau pun kebun-kebun binatang, semua biaya ini berasal dari orang-orang biasa seperti kita yang peduli akan keberlangsungan dan keseimbangan alam, laporan penggunaan dananya kami buat transparan dengan mengunggahnya di website dan media-media sosial yang bisa diakses semua orang”, ungkap Zbynec.

“Ide nya adalah mengumpulkan sedikit tenaga, uang, waktu dari orang banyak, orang-orang yang peduli, lalu mentransformasikan nya ke hal besar, seperti penyelamatan lingkungan”, tambah Zbynec.

Berangkat dari ide tersebut, tim Green Life dan Blue Life pun selama ini menyertakan relawan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan mereka, “Para volunteers datang dari Republik Ceko, mereka adalah pelajar atau guru, dan orang-orang biasa yang datang dengan biaya sendiri, kami hanya mengumpulkan sedikit uang untuk akomodasi, transportasi, dan konsumsi”, lanjut Zbynec.

Kini program-program Green Life dan Blue Life terus berkembang, mendapat dukungan dari banyak pihak, tim Green Life dan Blue Life bahkan berencana membuat program-program mereka menjadi program internasional, “Jadi mulai tahun 2019 mendatang, bukan hanya dari Republik Ceko saja, Milan dan kami sedang menggodok program yang memungkinkan untuk bisa diikuti oleh negara-negara lain juga, di lebih banyak tempat lain, seperti di Bukit Kedabuhan, Kota Subulussalam, tetangga Kabupaten Aceh Singkil yang hutannya masih alami dan selama ini menjadi tempat arung jeram warga setempat, di negara-negara Eropa lainnya, Afrika, dan dimana saja yang memungkinkan”, tutur Zbynec.

“Misi kami adalah berusaha memperbaiki keseimbangan alam yang sudah kita rusak setelah satu generasi terakhir”, pungkas Zbynec.** (Ron)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Comments are closed.

%d bloggers like this: