Cakrawala News
Portal Berita Online

Bisnis Turun-Temurun Shuttlecock di Desa Wedoro Klurak

184

SIDOARJO, CAKRAWALA.CO-Kok atau bola bulu tangkis (bahasa Inggris: Shuttlecock) adalah bola yang digunakan dalam olahraga bulu tangkis, terbuat dari rangkaian bulu bebek yang disusun membentuk kerucut terbuka, dengan ujung kok berbentuk setengah bola yang terbuat dari spons.

Permintaan shuttlecock bulu tangkis atau sering disebut “kok” di sentra industri kerajinan rumah tangga, Desa Wedoro Klurak, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Dimusim penghujan saat ini sedang sepi namun ketika musim kemarau atau musim kompetisi di liburan sekolah permintaan bisa meningkat hingga 100 persen.

Salah seorang perintis kok pertama kali di Desa Wedoro Klurak yang koknya sudah banyak dipakai atlet tingkat Nasional adalah Samsul Hadi (43), dia ini generasi ketiga meneruskan dari generasi pertama Matasim, dan Generasi kedua H. Gunadi.

ads bukopin

Menurut Samsul Hadi, kok dulu dan sekarang beda saat  Bapaknya H. Gunadi membuat di tahun 90-an ujung bola kok terbuat dari akar pohon bakau yang memiliki jenis lunak namanya bokem. “sekarang semakin modern pembutan kok sehari bisa 500 buah, sekarang dop atau kepala kok dibuat dari spons,” ujar penerus generasi ketiga kok merk Java ini saat diwawancarai usai bekerja.

Karyawan Samsul Hadi sekarang berjumlah 70 orang, sehari bisa merakit kok hingga 500 buah. Bapak dua anak ini menerapkan kerja 5 hari dalam satu minggu dan hanya memperkerjakan beberapa karyawan saja untuk hari Sabtu dan Minggu memperbaiki kok yang rusak. “tingkat kerusakan kok mencapai 20 persen, untuk menjaga kualitas di akhir pekan selalu kita pergunakan waktunya menyempurnakan kok yang rusak, sebelum dijual kepasaran,” ujarnya.

Satu slop kok Java berisi 50 buah kok, pangsa pasaranya sudah mencapai seluruh Indonesia setelah proses pemasaranya dibantu distributor besar di Kota Surabaya.

Samsul Hadi generasi ketiga shuttlecock Java.

Minta Dinas Terkait Agar Bersikap Adil

Samsul hadi, mantan Kepala Desa Wedoro Klurak ini mengaku, dua tahun terakhir ini usahanya mengalami kerugian akibat persaingan pasar yang tidak sehat.

“Sekarang di Desa ini saja ada 6 orang dan yang punya merk 4 orang membuat usaha kok, diantara mereka ada yang mantan pekerja saya lalu merintis sendiri,” pungkas Samsul.

Samsul berharap ada persaingan sehat dalam berkompetisi lantaran dia mengaku hanya usahanya saja yang sering di curigai dari Dinas terkait dan pihak Kepolisian. Padahal dirinya mengaku sudah mengantongi ijin lengkap.

Selain mengalami pengalaman buruk dirinya juga kecewa dengan oknum pengurus PBSI Sidoarjo, dulu merk kok Java pernah menjadi sponsor kejuaraan tingkat Kejurkab. “dulu kita pernah dititipin oleh sponsor raket bermerk yang tentu harganya mahal, diperuntukan untuk hadiah bagi atlet yang juara. Namun nyatanya saat pembagian hadiah raket tersebut tidak diberikan hanya tasnya saja yang diberikan. Berawal dari pengalaman buruk itulah. Java kok sekarang tidak lagi menjadi sponsor kegiatan di tingkat Kabupaten,” tegasnya.

Sebagai pengusaha yang hidup di dunia shuttlecock  dan sangat berkaitan dengan olahraga Badminton, dirinya berharap bisa kembali mendukung kemajuan olah raga yang sering mengharumkan nama Bangsa Indonesia di kancah Internasional. (rizal)

 

Comments are closed.