Cakrawala News
Portal Berita Online
idul cakrawala

Beredar Postingan Tarif Parkir Rp350 Ribu di Sosmed, Pemkot Yogyakarta Tak Akan Menggugat

0 14

Yogyakarta, Cakrawala.co – Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyatakan bahwa Pemkot Yogyakarta tidak akan menggugat pengunggah postingan tarif parkir Rp 350 ribu yang viral di media sosial. Pemkot justru berterimakasih karena orang tersebut telah membantu memberikan informasi terkait tarif parkir di Kota Yogyakarta.

Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan telah terjadi kesalahpahaman dan memang akhirnya informasi tersebut berkembang kemana-mana. Ia menyatakan hal ini dikarenakan kecepatan informasi yang tersebar di medsos sehingga seolah-olah urutan kejadian menjadi tidak jelas.

“Jadi saat itu saya menjawab di beberapa unggahan di Instagram, bahwa saya mengucapkan terimakasih atas klarifikasi dan kronologi kejadiannya, dan posisinya yang sudah jelas sebagai korban. Maka saat itu juga, saya bilang tidak ada rencana gugatan kepada pengunggah tersebut,” kata Heroe Poerwadi.

Heroe menyatakan bahwa pengunggah tarif parkir nuthuk di sosmed posisinya jelas bukan bagian dari yang melakukan mark up dan justru menjadi korban. Maka dari itu, tidak ada niat apapun dari Pemkot Yogyakarta untuk menggugat korban yang mengunggah postingan tersebut.

Ia pun menjelaskan kronologis dari kesimpangsiuran kabar yang menyatakan bahwa Pemkot Yogyakarta akan menggugat penguggah postingan tarif parkir Rp350 ribu di Kota Yogyakarta di sosmed tersebut.

“Bermula ada viral kasus parkir yang nuthuk yaitu Rp350 ribu, Wartawan nanya, bagaimana pak ? Saya cek kebenarannya dahulu, dan apakah itu parkir resmi atau bukan. Dishub akan koordinasi dengan Kepolisian untuk melakukan Cek kebenarannya. Tetapi apapun pasti akan ditindak tegas dan tanpa ampun,” terangnya.

Ia melanjutkan, di malam harinya ada laporan, bahwa kejadian ini bukan murni nuthuk tapi kongkalingkong mark u, antara kru bis dan teman-temannya dan tukang parkir yang meminta kuitansi ditulis sebesar Rp350 ribu.

“Jadi persoalan sebenarnya bergeser dari nuthuk ke mark up. Saat itu, kita menelusuri yg mengunggah ini siapa ? Termasuk bagian yg ikut mark up atau korban ? Di lihat dari unggahan pertama di ICJ, tidak jelas kronologi fakta dan posisinya tersebut. Unggahan pertama cerita kena thutuk 350ribu tapi di lapangan setelah di cek, soal mark up,” ujarnya.

Heroe menjelaskan ketika wartawan bertanya lagi, dirinya mengatakan bis itu kemungkinan besar tidak ikuti aturan perjalanan PPKM di Jogja. Yaitu harus masuk Terminal Giwangan untuk diperiksa perlengkapan kesehatan Covid-19 dan akan mendapat nomer parkir di tempat parkir resmi. Buktinya bis itu ada di tempat parkir liar. Yang kedua isunya tidak lagi nuthuk, tapi mark up.

Kemudian saat wawancara tersebut Heroe Poerwadi mengatakan jika pengunggah adalah juga bagian dari yang mark up maka kita laporkan juga. Karena sudah membuat berita palsu atau informasi yg tidak benar, yang menjadikan Kota Jogja menjadi korban dan jadi bulan-bulanan.

“Jadi membicarakan gugatan pengunggah itu, ketika posisi pengunggahnya belum diketahui sebagai bagian dari yang melakukan mark up atau sebagai korban. Dan di sinilah yg menjadi viral kemana-mana,” katanya.

Beberapa saat kemudian Heroe mendapat informasi dan ada yang menandai dirinya di medsos, yang menginformasikan bahwa yang mengunggah sudah melakukan klarifikasi. Dalam unggahan tersebut penguggah pertama menyatakan bahwa dirinya adalah korban dan sudah menghapus postingannya karena merasa dipermainkan dengan kuitansi parkir tersebut.

“Kesalahpahaman terjadi karena kecepatan informasi di medsos. Urutan kejadian jadi kacau. Jadi yang benar urutannya kejadiannya seperti itu. Ada momentum, ada teksnya dan ada konteksnya,” jelasnya. (Gon)

Leave A Reply

Your email address will not be published.