Sepak bola sebenarnya adalah permainan tetapi bisa diseret-seret kepada masalah politik dan persaingan pembangunan citra pribadi para pengemban posisi di pemerintahan.

Inilah yang terjadi pada insiden memalukan dilarangnya Anies Baswedan ikut turun mendampingi Presdien Jokowi ke lapangan. Seperti berebut panggung, pasukan Jokowi hanya memberikan panggung buat sang punya lakon.

Ketika itu Presiden jokowi hendak memberikan Piala atas kemenangan Persija 3-0 melawan Bali United di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta Sabtu (17/2/2018). Padahal saat itu Anies adalah Gubernur DKI Jakarta sekaligus Ketua Dewan Pembina Persija. Tapi mengapa dicegah turun bersama presiden dari tempat duduk di tribun VVIP? Inilah memalukannya panitia yang tidak pandai bermain dalam mengangkat pimpinan antara Anies Baswedan dan Jokowi.

Maka publik memberikan nilai 1-0 buat Anies Baswedan. Posisi Jokowi yang mestinya bisa unggul karena telah berhasil menghibur masyarakat melalui sentimen bola malah jadi kacau semacam ini, karena buruknya tata kelola penyelenggaraan. Anies memang tidak mempermasalahkan karena yang penting Persija juara.

Dicegahnya Anies seperti terekam dalam banyak video yang beredar dilakukan oleh Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden). Dari Istana Kepresidenan Bey Machmudin telah memberikan penjelasan bahwa Paspampres mendasarkan pada aturan protokol kepresidenan yang menyatakan bahwa hanya orang tertentu yang boleh mendampingi presiden. Aturannya adalah “dalam hal Acara Resmi dihadiri Presiden dan/atau Wakil Presiden, penyelenggara dan/atau pejabat tuan rumah mendampingi Presiden dan/atau Wakil Presiden.”  (pasal 13 UU 9/2010 tentang Keprotokolan).

Saat Presiden menyerahkan piala kepada Persija (antara foto).

Persoalannya adalah piala presiden ini tidak digolongkan sebagai acara kenegaraan. Kalaupun acara ini diklaim sebagai acara kenegaraan yang terikat protokoler, sejak awal tuan rumah Anies Baswedan sudah berada di tribun VVIP bersama Jokowi. Bahkan keduanya berjabat tangan. Jokowi mengucapkan selamat kepada Anies Baswedan ketika Persija memasukkan gol 3-0 atas Bali United.

Seperti diberitakan Detik.com (Minggu, 18/2/2018) kejadian Gubernur DKI Anies Baswedan dicegah Paspampres saat hendak ke podium Piala Presiden dikritik sejumlah pihak, salah satunya Wasekjen Golkar Maman Abdurahman. Ketua Panitia (SC) Piala Presiden 2018, Maruarar Sirait dianggap bertanggung jawab.

“Insiden penolakan Anies adalah tanggung jawab penuh Maruarar Sirait. Jangan defensif,” kata Maman kepada wartawan, Minggu (18/2/2018).

Sementara itu, Menpora Imam Nahrawi mengatakan saat itu Paspampres hanya menyesuaikan dengan nama-nama yang dipanggil MC. Imam mengatakan final Piala Presiden itu bukanlah acara kenegaraan.

“Karena ini bukan acara kenegaraan/pemerintahan maka Paspampres akan bertugas menyesuaikan dengan yang dipanggil MC,” ujar Imam.

Ketua panita Piala Presiden Maruarar Sirait (jpnn.com).

Apapun yang terjadi, yang penting Persija menang dalam laga Piala Presiden kali ini. Panitia penyelenggara juga sudah berhasil menghibur masyarakat sepak bola Indonesia.

Tidak ada salahnya jika Panitia memberikan klarifikasi yang menyejukkan sehingga warga tidak terbelah. Mohon maaf saja sudah lebih dari cukup. Inilah pendidikan sportivitas yang dibangun oleh sepak bola, dimanapun di dunia ini. (fur/UCNews).