JAKARTA, CAKRAWALA.CO,- Selasa 24 April 2018 adalah hari bersejarah bagi mantan Ketua DPR Setya Novanto, karena hari inilah dia divonis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta dengan pidana 15 tahun penjara. Ia terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi.

Hukuman ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa sebelumnya yang menuntut Setnov 16 tahun penjara.

Bukan hanya itu, Setnov juga dihukum denda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan, serta dicabut hak politiknya. Sempurnalah akhir karir politik Setya Novanto yang selama ini diberitakan, sangat licin dan susah ditersangkakan dalam banyak kasus.

Masih ada lagi hukumannya, yakni majelis hakim tetap mewajibkan Novanto membayar uang pengganti sesuai dengan uang yang ia terima yaitu 7,435 juta dolar AS dan dikurangi Rp 5 miliar yang sudah dikembalikan Setnov ke KPK.

Seperti dilaporkan Kompas.com (24/4/2018), sidang Setya Novanto dalam perkara kasus korupsi e-ktp ini dipimpin Ketua Majelis Hakim Yanto dengan anggota majelis Frangki Tambuwun, Emilia Djajasubagja, Anwar, dan Ansyori Syaifudin.

Dalam perkara ini Setnov diduga menerima 7,3 juta dolar AS dan jam tangan Richard Mille senilai 135 ribu dolar AS dari proyek KTP elektronik. Total kerugian negara akibat proyek tersebut mencapai Rp 2,3 triliun.

Dengan putusan ini maka nama-nama yang telah disebut sebagai penerima dana proyek e-KTP sebaiknya ditindaklanjuti, agar publik tidak menilai Komisi pemberantasan korupsi (KPK) tidak melakukan tebang pilih. Siapapun mereka, apakah yang ada di pusat kekuasaan ataukah yang sedang bertarung di Pilkada. Kalau Setnov saja yang sering dijuliki “belut kuning” tak bisa lolos, maka yang lain pun seharusnya tak bisa lari dari kenyataan. Tentu saja asalkan bukti mendukungnya. (fur/24/4/2018).