Cakrawala News
Portal Berita Online

Bagi yang Kangen Musik Cadas Saparua 1996, Disini Tempatnya

BANJAR JABAR CAKRAWALA.CO  – Radiation Project kembali menggebrak pentas musik cadas di Kota Banjar, Jawa Barat. Kali ini, dalam rangka HUT ke 17 Kota Banjar, sejumlah grup band cadas tampil dalam acara “Haleuang Patroman” yang digelar di Gedung Koperasi Guru Banjar, Kota Banjar, Minggu (23/2/2020).

Acara ini diikuti 13 grup band dari berbagai genre, seperti rock, heavy metal, black metal, trash metal, grunge, punk, dan hardcore,

Raungan distorsi dan cabikan bass serta hentakan drum yang cukup menggelegar, membuat para “metalhead” (sebutan pecinta musik metal) yang memadati ruangan GOR tersebut berjingkrak mengikuti alunan musik cadas yang dibawakan beberapa band beraliran metal seperti End-4, Fairy Tales, Ballistic, dan band cadas lainnya.

Acara yang digelar sejak pukul 09.00-17.00 WIB itu membuat para penonton puas. Karena, hampir seluruh grup band tampil menyuguhkan aksi panggung yang atraktif dan enerjik, sehingga memancing ratusan penonton untuk moshing (tarian khas musik metal dan hardcore).

Meski musik keras dan penonton moshing hingga saling bersenggolan, namun acara berjalan aman, lancar, dan tertib. Bahkan, setiap grup band beraliran metal selesai membawakan lagu, para penonton yang didominasi kaum muda itu selalu memberikan tepuk tangan dengan kompak.

Beberapa penonton mengaku puas dengan terselenggarakannya acara ini, seperti yang diungkapkan Ucrit (40) asal Tasikmalaya. Menurutnya, acara pentas musik seperti ini sudah jarang digelar, sehingga ia mengaku kangen ingin berjingkrak meluapkan emosinya seperti pada masa tahun 1996 di GOR Saparua, Bandung.

“Acara seperti ini jadi mengingatkan saya pada acara pentas musik di GOR Saparua Bandung tahun 1996, di mana semua genre musik ada dalam acara tersebut,” ungkap Ucrit.

Sementara itu, Duff Sudrajat salah satu pecinta musik “heuras” pun mengatakan, bahwa digelarnya pentas musik ini adalah untuk mengubah stigma masyarakat, bahwa jika ada gelaran pentas musik (band) sebagai biang kericuhan. Namun, di acara ini pandangan tersebut diubah melalui pagelaran yang profesional, aman, nyaman, dan tertib.

“Sejak awal kita komitmen dengan teman-teman musisi, jika acara ini adalah dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Alhamdulillah, hingga akhir acara, pentas musik ini berjalan aman, nyaman, lancar, tertib, dan damai,” kata Duuf yang juga “dedengkot” The Bombs Banjar Raya.

Sementara itu, penggagas Haleuang Patroman sekaligus ketua panitia pelaksana, Abah Ogi mengatakan, stigma negatif bahwa band-band beraliran cadas sebagai biang keladi keributan memang kerap melekat. Tapi stigma tersebut pelan-pelan luntur oleh para metalheads itu sendiri dengan membuktikan setiap gelaran musik (band) tidak terjadi keributan.

“Alhamdulillah lancar, dengan perasaan solidaritas dan saling menjaga sesama anak metal maupun reggae atau gentre lainnya, sehingga acara ini berlangsung aman dan tertib hingga selesai,” tutur Ogi.

Ia pun menambahkan, bahwa acara yang tanpa dibiayai pemerintah ini akan menjadi agenda tahunan. Dalam hal ini, biaya diperolehnya dari hasil patungan seluruh musisi yang tampil dalam acara tersebut.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mensuport terlaksananya acara ini hingga selesai, dan tak lupa kami pun mengucapkan terima kasih, terutama kepada pihak kepolisian yang telah memberikan izin hingga acara ini sukses, aman, tertib, dan lancar,” pungkasnya.***Hermanto

%d bloggers like this: