Ia melaporkan Kepala Sekolah SMA 7 Mataram bernama Haji Muslim ke polisi dengan tuduhan melakukan perbuatan cabul.

Langkah ini dilakukan sebagai reaksi balik karena ia mendapat ketidakadilan hukum. Ia sebenarnya juga menjadi korban pelecehan seksual oleh atasannya itu, tetapi jadi terpidana karena laporan atasannya dengan tuduhan menyebarkan rekaman mesum Kepala SMA 7 Mataram (Haji Muslim) dengan seorang bendaharanya.

Faktanya, Baiq Nuril bukan yang menyebarkan pembicaraan mesum, melainkan hanya memindahkan suara ke tulisan. Yang menyebarkan transkrip mesum itu adalah orang lain.

Reaksi publik sangat masif. Buktinya kejaksaan juga menunda eksekusi kasus ini. Kini Baiq Nuril sedang berjuang menuntut keadilan atas pelecehan yang dilakukan oleh atasannya.

Jadi sebenarnya atasannya yang bernama Haji Muslim itu melakukan dua perbuatan pelecehan seksual, pertama dengan seorang bendaharanya, kedua dengan Baiq Nuril.

Baiq Nuril seperti dikutip dari detik.com (19/11/2018), Haji Muslim dilaporkan di Polda Nusa Tenggara Barat dengan pasal mengenai perbuatan cabul. Pasal yang dituduhkan adalah pasal 294 ayat 2 butir 1 KUHP. Pasal tersebut mengatur tindak pidana perbuatan cabul yang dilakukan oleh atasan kepada bawahannya.

Kita tunggu drama “menuntut keadilan” ini, karena boleh jadi desakan publik yang masif akan menjadi Prita Mulyasari kedua, yang akan mempermalukan pihak yang jumawa.

Ketika itu koin Prita yang berhasil dikumpulkan sebanyak ratusan juta rupiah untuk diberikan kepada rumah sakit Omni Internasional Bintaro, yang menuntut Prita ke pengadilan hanya karena protes atas pelayanan rumah sakit yang diterimanya. Wallahu a’lam (UCNews/fur/19/11/2018).