Cakrawala News
Portal Berita Online

Bagaimana Kepemimpinan Sultan Hamengkubuwana X dan Efektivitasnya

0

Bagaimana Kepemimpinan Sultan Hamengkubuwana X dan Efektivitasnya

Oleh Indana Fiersy Tsabita Arsil
Mahasiswa Ilmu Administrasi Universitas Indonesia

Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu dari daerah di Indonesia yang memiliki status istimewa. Yogyakarta mendapatkan gelar tersebut karena statusnya sebagai kesultanan yang sudah banyak membantu dan mendukung Indonesia pada masa kemerdekaan selama sejarah. Gubernur DIY adalah sama dengan raja kesultanan Yogyakarta yang sedang berkuasa, yaitu Sultan Hamengkubuwana X dengan Wakil gubernur Pangeran Paku Alam.

Apakah Gubernur DIY termasuk pada The Great Man Theory?
The Great Man Theory adalah gagasan yang dipopulerkan oleh Thomas Carlyle yang membicarakan bahwa sifat kepemimpinan bersifat intrinsik dimana pemimpin yang baik “dilahirkan” daripada “dibuat”. Pemimpin dilahirkan dengan kualitas tertentu seperti yang membuat seorang pemimpin berbeda dari orang-orang biasa yang kemudian menjadi alasan dari posisi atau jabatan kekuasaan yang mereka duduki.
Sri Sultan Hamengkubuwana IX adalah seorang pribadi yang dicintai rakyatnya dan proaktif dalam urusan negaranya. Kualitas-kualitas pemimpin yang ada di Sri Sultan Hamengkubuwana IX menurun ke pemimpin dinasti selanjutnya yaitu Sri Sultan Hamengkubuwana X. Walau tidak bisa ditentukan secara pasti, penggunaan kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwana IX sebagai referensi dapat memberikan semacam penggambaran.

Gaya Kepemimpinan Demokratis pada Sri Sultan Hamengkubuwana X
Gaya Kepemimpinan Birokratis menurut Robbins (2003) adalah gaya kepemimpinan dimana pemimpin memiliki kecenderungan untuk melibatkan bawahannya dalam proses pelaksanaan organisasi, termasuk dalam proses pemilihan keputusan.
Sri Sultan Hamengku Buwono X menjalankan kepemimpinan menggunakan gaya kepemimpinan demokratis. Kepemimpinan demokratis adalah dimana pemimpin yang terbuka dan menjunjung partisipasi bawahannya dalam pelaksanaan kewenangannya untuk memajukan organisasi. Sultan adalah pemimpin yang senang berkomunikasi dengan masyarakat dan staf-staf pemerintahnya. Ia memastikan bahwa adanya musyawarah dan tidak ada wewenang mutlak sendiri darinya. Diskusi dilakukan antara Sultan dengan para staf sebagai bentuk apresiasi terhadap suara mereka. Ia memberikan kebebasan kepada stafnya untuk berpikir dan berkreasi. Sesuai dengan tradisi keraton yang sudah ada dari lama, pemerintahan DIY menjalankan Pisowan Agung. Pisowan Agung menggabungkan raja dan rakyat untuk saling berkomunikasi. Rakyat datang untuk menyampaikan keluh kesah mereka kepada pemimpin yang bertakhta. Adanya acara ini memberikan rakyat kesempatan agar suara mereka didengar langsung oleh pemimpin. Dengan begitu, hubungan antara Sultan dengan staf dan rakyatnya termasuk baik dan memenuhi gaya kepemimpinan demokratis.

Sri Sultan Hamengkubuwana X, Seorang Sosok Leader atau Manajer?
Manajer dituruti bawahannya karena bawahan merasa harus. Manajer mencari kedisiplinan dan aturan yang baik, lebih ke melakukan hal-hal secara baik. Pemimpin lebih memiliki rasa kekeluargaan terhadap anggotanya dengan memotivasi dan mempengaruhi. Suatu pekerjaan dikerjakan bersama dengan memperhatikan apa yang ingin disampaikan anggotanya. Daripada manajer, pemimpin lebih ke melakukan hal yang benar.
Sri Sultan Hamengkubuwana X menghadirkan dirinya sebagai seorang pemimpin daripada manajer. Ia sangat memperhatikan posisinya sebagai pemimpin dan mempergunakannya untuk memberikan influensi baik terhadap bawahan dan warganya. Seperti yang disebutkan di atas, Sultan menunjukkan pribadi yang memotivasi, menginspirasi, dan berperan sebagai teladan.

Tipologi dari Follower Sang Gubernur
Followership menurut Kelley (1992) adalah persetujuan untuk mengikuti arahan tertentu agar mencapai tujuan bersama. Sebuah proses yang menaruh individu untuk menerima pengaruh orang lain demi pencapaian tujuan bersama. Pengaruh yang dimaksud berasal dari pemimpin yang berada di tingkatan yang berbeda dari pengikutinya (followers).
Tipologi Followership yang terjadi di pemerintahan di bawah kuasa Sri Sultan Hamengkubuwana X adalah Conformist Followers. Conformist adalah pengikut yang berada di sisi pemimpin tetapi masih membutuhkan arahan dan motivasi. Sultan adalah sosok pemimpin yang terbuka dan terus mendorong partisipasi dan memotivasi staf-staf pemerintahannya.

Kolaborasi dalam Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana X
Sultan sebagai sosok yang terbuka sangat menerima segala masukkan yang ada baik dari staf maupun dari warganya. Contoh kolaborasi dengan stakeholder dapat dilihat dari cara Sultan mengintegrasikan pendapat dan ide yang diluapkan oleh warga dan staf pemerintahannya dalam pemilihan keputusan/kebijakan. Penanganan awal Covid-19 dilaksanakan atas kolaborasi antara sultan dengan ahli, penjabat pemerintahan lain, dan mengajak warga untuk berpartisipasi. Kolaborasi bukan hal yang asing bagi Sultan.

Sri Sultan Hamengkubuwana X selama masanya memimpin Yogyakarta sudah memiliki kinerja yang cukup efektif. Warga Yogya terlihat sudah menaruh kepercayaan kepada gubernur sekaligus raja mereka. Kepribadian Sultan yang memiliki kepedulian yang tinggi dan menghargai setiap masukkan membawakan rasa hormat dari warga kepadanya. Rasa tanggung jawabnya atas daerah istimewa ini terlihat pada kepeduliannya dalam menaati kualitas-kualitas penjabat publik yang baik. Akuntabilitas dan transparansi diperlihatkan melalui laporan mingguan yang dapat diakses oleh semua orang. Partisipasi masyarakat ada di pelaksanaan Pisowan Agung. Ia juga menerima banyak Public Trust atas reputasinya yang sebagai gubernur yang cocok. Pengikutnya atau warga merasakan kekaguman dan rasa nyaman. Warga lebih memilih untuk mendapatkan gubernur sesuai penetapan dan bukan dari pemilihan umum.

Leave A Reply

Your email address will not be published.