Cakrawala News
Portal Berita Online

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Cabang Madiun Terbentuk, 15 Pengurus Resmi Dilantik

MADIUN, CAKRAWALA.CO – Asosisasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) selama ini selalu mendukung kegiatan menyusui, dan berusaha menjangkau berbagai kalangan demi peningkatan angka ibu menyusui di Indonesia.

Dengan menggandeng berbagai lembaga dan komunitas, diantaranya Paguyuban Ibu-ibu Menyusui Madiun (PIMM) dan Madiun Peduli ASI (MPA), yang sudah lebih dulu ada di Madiun, AIMI cabang Madiun diresmikan. Bertempat di atrium Sun City Mall Madiun, Minggu 19 Januari 2020.

Hal ini sekaligus pelantikan 15 orang pengurus AIMI cabang Madiun untuk periode 2020 – 2025, oleh Ketua AIMI provinsi Jawa Timur, Diah Hernani. Terpilih sebagai ketua AIMI cabang Madiun adalah dr. Rony Tamba.

Ketua AIMI Madiun, dr. Rony Tamba menjelaskan, terbentuknya AIMI cabang Madiun merupakan inisiasi dari Wakil Wali Kota Madiun, Inda Raya Ayu Miko Saputri, yang juga dikenal sebagai pegiat Air Susu Ibu (ASI). Dalam satu tahun berproses, banyak hal menjadi pertimbangan agar wadah ini nantinya mempunyai daya maksimal.

“Jadi sebenarnya cabang AIMI Madiun sudah lama kita angan – angan. Dan dalam prosesnya Bu Inda Raya banyak sekali memberikan masukan. Akhirnya disepakati menjadi AIMI yang ikut Surabaya di Jawa Timur dan Jakarta sebagai pusatnya,” ungkap dokter spesialis anak ini.

Dalam tugasnya nanti, dr Rony menerangkan, kegiatan pertama AIMI cabang Madiun adalah, menerima home visit. Apabila ada yang memiliki masalah menyusui, pihaknya bisa datang dan memberi bantuan. Ia mengaku, pihaknya memiliki 3 konselor berstandart 40 jam World Health Organization (WHO) serta konsultan laktasi.

Sementara itu Wakil Walikota Madiun, Inda Raya AMS dinobatkan sebagai penasehat AIMI cabang Madiun. Ia mengatakan, dengan terbentuknya AIMI diharapkan, mampu memaksimalkan fungsi dari ruang laktasi yang tersedia di beberapa fasilitas umum seperti stasiun, terminal, perkantoran, bank dan mall.

“Selama ini ruang-ruang laktasi banyak yang tidak difungsikan secara maksimal karema minimnya sosialisasi. Ada yang sudah memiliki, namun karena tidak difungsikan secara maksimal, ruangan tersebut berubah menjadi gudang,” ungkap Wawali.

Kedepan pihaknya akan lebih gencar mengedukasi ibu-ibu bahwa di tempat-tempat umum disediakan ruang laktasi, pendampingan untuk sosialisasi, dan advokasi kepada perusahaan yang belum menyediakan ruang laktasi yang layak bagi ibu menyusui.

“Sebenarnya sudah ada undang – undangnya, hanya mungkin karena keterbatasan dana atau belum ada keingunan mengarah kesana, jadi belum disediakan. Saya rasa dengan standart yang sudah tertulis di, bukan hal yang sulit bagi perusahaan untuk mewujudkannya,” pungkas Wawali.*(Ayu/Win)

%d bloggers like this: