Cakrawala News
Portal Berita Online

Analisis Price Sebagai Pull Motivation Bagi Wisatawan Nusantara Untuk Berkunjung Ke Kota Bandung Pada Masa Pandemi Covid-19

0 298

Analisis Price Sebagai Pull Motivation Bagi Wisatawan Nusantara Untuk Berkunjung Ke Kota Bandung Pada Masa Pandemi Covid-19

 Oleh : Ahmad Razzaq Fadillah Nasution – Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia

 

Indonesia memiliki pariwisata yang beragam mulai dari alam, buatan, maupun budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan keunikan serta keunggulan yang berbeda-beda setiap daerahnya. Berdasarkan (Undang-undang No. 10 tahun 2009), wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam waktu sementara. Salah satu lokasi pariwisata yang sangat populer adalah Kota Bandung. Kota Bandung menjadi populer khususnya bagi warga ibukota dan sekitarnya. Kepopuleran Kota Bandung sebagai salah satu lokasi pariwisata dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat mendorong seseorang dalam melakukan perjalanan wisata.

Motivasi berwisata atau travel motivation merupakan faktor penting yang dapat mendorong perilaku wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata (Crompton, 1979). Salah satu dimensi yang memengaruhi travel motivation  adalah pull factor merupakan kekuatan eksternal mencakup fitur khusus destinasi yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung (Crompton, 1979). Menurut Fakfare, Talawanich, dan Wattanacharoensil (2020), terdapat delapan indikator pada pull motivation, yaitu responsibility, relaxation, tax deduction policy, socialization, local food, family bonding, price, dan attraction. Pada penelitian ini peneliti akan fokus dalam membahas salah satu indikator pada travel motivation  yaitu price untuk menganalisis travel motivation wisatawan nusantara dalam bepergian ke Kota Bandung selama pandemi COVID-19.

Menurut (Fakfare, Talawanich, & Wattanacharoensil, 2020), biaya perjalanan wisata yang terjangkau, beralasan serta menarik dapat mempengaruhi individu untuk mengunjungi suatu daerah. Perjalanan wisata dengan harga yang terjangkau akan menyebabkan seseorang tertarik untuk mengunjungi pariwisata tersebut. Menurut Fakfare, Talawanich, & Wattanacharoensil (2020), faktor yang memengaruhi individu melakukan perjalanan wisata adalah biaya yang terjangkau, biaya perjalanan yang dilakukan reasonable dan masuk akal, dan biaya yang menarik perhatian wisatawan.

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia, 2021

Berdasarkan data yang diambil dara Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke berbagai wilayah Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 303,403,888 wisatawan; pada tahun 2019 sebanyak 282,925,854 wisatawan; dan pada tahun 2020 sebanyak 120,000,000 wisatawan. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah kunjungan terus turun dari tahun ke tahun semenjak tahun 2018. Pada tahun 2020 pemerintah menerapkan berbagai kebijakan yang mencegah masyarakat untuk bepergian keluar rumah dikarenakan adanya pandemi COVID-19 yang berdampak kepada penurunan jumlah kunjungan secara drastis. Pada kondisi pandemi indikator price menjadi lebih penting karena ekonomi sedang menurun dan orang lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aebli, Volgger, dan Taplin (2021), indikator affordable price merupakan salah satu faktor yang membuat orang ingin berwisata ke destinasi wisata tertentu karena pandemi COVID-19 sangat berpengaruh pada perekonomian di mana masyarakat banyak yang mengalami kesulitan dalam bekerja dan mencari penghasilan. Berangkat dari uraian tersebut maka rumusan masalah yang ditentukan oleh penulis adalah “Bagaimana indikator price memengaruhi travel motivation wisatawan nusantara untuk berkunjung ke Kota Bandung selama pandemi COVID-19”

Menurut Fakfare, Talawanich, & Wattanacharoensil (2020), faktor yang memengaruhi individu melakukan perjalanan wisata adalah biaya yang terjangkau, biaya perjalanan yang dilakukan reasonable dan masuk akal, dan biaya yang menarik perhatian wisatawan. Dalam kuesioner yang telah disebar peneliti mendapatkan 411 responden. Indikator ini diukur untuk mengetahui travel motivation pada wisatawan nusantara yang berkunjung ke kota Bandung jika dilihat dari indikator price. Hasil dari kuesioner ini menunjukan bahwa mayoritas responden setuju bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk melakukan kunjungan wisata ke kota Bandung telah sepadan dengan nilai yang didapatkan dan terjangkau untuk mereka.

Tabel 1. Indikator Price 1 (n=411)

Saat pandemi, saya berkunjung ke Kota Bandung karena biaya perjalanan ke destinasi wisata yang wajar.
Valid Frequency Percent Valid Percent
Sangat Tidak Setuju 42 10,2 10,2
Tidak Setuju 64 15,6 15,6
Setuju 148 36,0 36,0
Sangat Setuju 157 38,2 38,2
Total 411 100 100

 

Gambar 1. Pernyataan “Saat pandemi, saya berkunjung ke Kota Bandung karena biaya perjalanan ke destinasi wisata yang wajar”
Sumber: Data olahan Peneliti, 2021

Pada pertanyaan item kuesioner nomor 6 yaitu “Saat pandemi, saya berkunjung ke Kota Bandung karena biaya perjalanan ke destinasi wisata yang wajar”, dilihat bahwa sebesar 38,2% atau sebanyak 157 responden menjawab sangat setuju dan 36% atau sebanyak 148 orang menjawab setuju, adapun yang menjawab tidak setuju sebesar 15,6% atau sebanyak 64 orang dan yang menjawab sangat tidak setuju sebesar 10,2% atau sebanyak 42 orang. Berdasarkan rangkuman jawaban tersebut didapatkan bahwa mayoritas responden setuju dengan pernyataan ini, sehingga dapat disimpulkan pula bahwa biaya perjalanan ke  Kota Bandung masih tergolong wajar.

Biaya yang wajar telah berpengaruh dalam menarik minat wisatawan nusantara berkunjung ke Kota Bandung yang dibuktikan dengan pernyataan positif dari responden. Indikator ini menjadi salah satu pertimbangan penting dalam melakukan pertimbangan perjalanan di masa pandemi. Hal ini sejalan dengan teori Aebli, Volgger, dan Taplin (2021) yang menyebutkan bahwa harga yang terlalu murah juga dapat membuat orang berwisata ke suatu tempat karena harga yang murah dianggap tidak dapat menjamin kesehatan dan keselamatan pada tempat wisata tersebut. Alasan responden untuk memilih melakukan perjalanan wisata ke kota Bandung atas biaya yang dianggap wajar telah menarik minat wisatawan nusantara karena dianggap biaya yang wajar dapat mencerminkan pemeliharaan tempat wisata dan protokol kesehatan yang ketat sehingga dapat menjamin keselamatan pengunjung.

 Tabel 2. Indikator Price 2 (n=411)

Saya berkunjung ke Kota Bandung selama masa pandemi karena biaya perjalanan ke destinasi wisata yang terjangkau.
Valid Frequency Percent Valid Percent
Sangat Tidak Setuju 42 10,2 10,2
Tidak Setuju 74 18,0 18,0
Setuju 145 35,3 35,3
Sangat Setuju 150 36,5 36,5
Total 411 100 100

 

Gambar 2. Pernyataan “Saya berkunjung ke Kota Bandung selama masa pandemi karena biaya perjalanan ke destinasi wisata yang terjangkau”

Berdasarkan pertanyaan item kuesioner nomor 7 yaitu, “Saya berkunjung ke Kota Bandung selama masa pandemi karena biaya perjalanan ke destinasi wisata yang terjangkau” dapat diketahui bahwa mayoritas responden menjawab Sangat Setuju dengan besaran persentase 36.5% atau sebanyak 150 responden. Hampir sama besar dengan mayoritas jawaban, responden yang menjawab Setuju memiliki besaran persentase 35.3% atau sebanyak 145 responden. Sedangkan, yang menjawab Sangat Tidak Setuju hanya sebesar 10.2% atau sebanyak 42 responden. Berdasarkan jawaban tersebut, responden wisatawan nusantara merasa yakin bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk berwisata ke kota Bandung, terjangkau bagi mereka.

Keinginan responden wisatawan nusantara untuk berkunjung ke kota Bandung yang dipicu atas faktor dari biaya perjalanan wisata yang terjangkau ini telah mendukung teori  (Fakfare, Talawanich, & Wattanacharoensil, 2020) yang mengatakan bahwa adanya tawaran perjalanan wisata yang terjangkau akan menyebabkan seseorang tertarik untuk mengunjunginya karena orang tersebut merasa melakukan perjalanan wisata dengan harga terjangkau tidak akan menghabiskan uang terlalu banyak dan masih bisa memenuhi kebutuhannya serta dapat rehat sejenak dari aktivitas sehari-harinya.

Berkaitan dengan hal ini, adapun sekiranya alokasi biaya yang biasanya dikeluarkan oleh wisatawan nusantara saat melakukan kegiatan wisata di kota Bandung dijelaskan oleh pernyataan Pak  Edward Parlindungan selaku Kepala Bidang Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, melalui wawancara mendalam beliau menjelaskan bahwa :

“.. Tapi yang di pasti, biaya di Kota Bandung itu banyaknya ya, untuk menginap, makan, untuk belanja, itu aja. Kalau untuk menikmati tempat wisatanya mungkin bukan di Kota Bandung, di luar Kota Bandung banyaknya. Yaa, ya kalo di Bandung mah kan identiknya wisata belanja, wisata makan. Nah kalo ke Bandung, bener ngga, apa.. makan, belanja, iya kan?” (Wawancara mendalam dengan Edward, Kepala Bidang Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, 17 Oktober 2021)

Berdasarkan wawancara tersebut, dapat diperoleh informasi bahwa biaya yang dihabiskan oleh wisatawan nusantara yang berkunjung ke kota Bandung lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan belanja dan akomodasi, bukan mengunjungi tempat wisata. Hal ini, disebabkan juga karena keberadaan tempat wisata sendiri lebih banyak terdapat di luar wilayah kota Bandung. Maka  dapat disimpulkan bahwa, kota Bandung merupakan tujuan wisata yang terjangkau bagi wisatawan nusantara dengan preferensi melakukan perjalanan wisata untuk berbelanja.

Tabel 3. Indikator Price 3 (n=411)

 

Saya berkunjung ke Kota Bandung karena biaya perjalanan selama masa pandemi ke destinasi wisata tersebut menarik.
Valid Frequency Percent Valid Percent
Sangat Tidak Setuju 53 12,9 12,9
Tidak Setuju 81 19,6 19,6
Setuju 150 36,5 36,5
Sangat Setuju 127 30,9 30,9
Total 411 100 100

 

Gambar 3. Pernyataan “Saya berkunjung ke Kota Bandung karena biaya perjalanan selama masa pandemi ke destinasi wisata tersebut menarik. Sumber: Data olahan Peneliti, 2021

Berdasarkan pertanyaan item kuesioner “Saya berkunjung ke Kota Bandung karena biaya perjalanan selama masa pandemi ke destinasi wisata tersebut menarik”, dapat dilihat bahwa responden yang menjawab kategori “Sangat Tidak Setuju” sebesar 12,9% dari keseluruhan responden atau sebanyak 53 orang dan responden yang menjawab kategori “Tidak Setuju” yaitu sebesar 19,60% atau 81 orang. Selanjutnya, responden yang menjawab kategori “Setuju” berjumlah 150 orang atau sebesar 36,50% dari keseluruhan responden dan sisanya, ada sebanyak 127 responden atau 30,90% dari total keseluruhan responden menjawab kategori “Sangat Setuju”. Dari hasil yang diperoleh, terlihat bahwa mayoritas responden menjawab “Setuju” bahwa biaya perjalanan selama masa pandemi ke Kota Bandung tersebut menarik, yaitu  sebesar 36,50% dari total keseluruhan responden. Selain itu, kategori jawaban “Setuju” dan “Sangat Setuju” juga mendominasi jawaban para responden yaitu masing-masing sebesar 36,50% dan 30,90%.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa wisatawan berkunjung ke Kota Bandung dipengaruhi oleh persepsi bahwa biaya perjalanan selama masa pandemi ke destinasi wisata Kota Bandung menarik. Hasil ini mendukung minat melakukan kunjungan ke kota Bandung dapat menguatkan teori Aebli, Volgger, dan Taplin (2021) yang menjabarkan bahwa faktor yang membuat orang ingin berwisata ke destinasi wisata tertentu karena pandemi COVID-19 sangat berpengaruh pada perekonomian di mana masyarakat banyak yang mengalami kesulitan dalam bekerja dan mencari penghasilan. Sehingga, biaya perjalanan yang menarik telah berpengarh menarik minat wisatawan nusantara karna kondisi perekonomian masyarakat selama pandemi.

 Tabel 4. Indikator Price 4  (n=411)

Selama masa pandemi, saya berkunjung ke Kota Bandung karena destinasi wisata yang ditawarkan, nilainya sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
Valid Frequency Percent Valid Percent
Sangat Tidak Setuju 43 10,5 10,5
Tidak Setuju 60 14,6 14,6
Setuju 174 42,3 42,3
Sangat Setuju 134 32,6 32,6
Total 411 100 100

 

Gambar 4.  Pernyataan “Selama masa pandemi, saya berkunjung ke Kota Bandung karena destinasi wisata yang ditawarkan, nilainya sepadan dengan biaya yang dikeluarkan”. Sumber: Data olahan Peneliti, 2021

Berdasarkan pertanyaan item kuesioner “Selama masa pandemi, saya berkunjung ke Kota Bandung karena destinasi wisata yang ditawarkan, nilainya sepadan dengan biaya yang dikeluarkan”, dapat dilihat bahwa responden yang menjawab kategori “Sangat Tidak Setuju” dengan pernyataan tersebut sebesar 10,5% dari keseluruhan responden atau sebanyak 43 orang dan responden yang menjawab kategori “Tidak Setuju” yaitu sebesar 14,60% atau 60 orang. Selanjutnya, responden yang menjawab kategori “Setuju” berjumlah 174 orang atau sebesar 42,30% dari keseluruhan responden dan sisanya, ada sebanyak 134 responden atau 32,60% dari total keseluruhan responden menjawab kategori “Sangat Setuju”. Dari hasil yang diperoleh, terlihat bahwa mayoritas responden menjawab Setuju bahwa destinasi wisata yang ditawarkan oleh Kota Bandung sepadan dengan biaya yang dikeluarkan, yaitu  sebesar 42,30% dari total keseluruhan responden.

Selain itu, kategori jawaban “Setuju” dan “Sangat Setuju” juga mendominasi jawaban para responden yaitu masing-masing sebesar 42,30% dan 32,60%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa wisatawan berkunjung ke Kota Bandung dipengaruhi oleh persepsi bahwa destinasi wisata yang ditawarkan oleh Kota Bandung sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

Selain itu terdapat pula pernyataan dari salah satu narasumber penelitian kami, yaitu Bapak Eko Singgih Kurniawan selaku Site Manager dari Wana Wisata Ranca Upas, mengenai tingkat kesepadanan antara biaya dengan apa yang ditawarkan oleh destinasi wisata Ranca Upas yang terdapat di Kota Bandung. Dalam wawancara tersebut beliau menyatakan :

“.. dengan biaya Rp22.000 sudah include ke penangkaran rusa, sudah bisa menikmati Ranca Upas dengan keluasan 500 hektar, dengan berbagai potensi yang ada, dari hutannya kita ada, savananya kita ada, dengan harga segitu, ya sepadan. Karena, apalagi sekarang, terutama kalau orang-orang dari kota, bisa dikatakan polusi itu sudah tidak bisa dibatasi, setelah masuk ke Ranca Upas ya benar-benar sejuk, oksigennya benar-benar masih segar. Jadi, masih worth it sih.”

Berdasarkan pernyataan Pak Eko tersebut, dapat disimpulkan bahwa menurut beliau biaya yang perlu dikeluarkan untuk menikmati dan sekaligus mengunjungi destinasi wisata Ranca Upas sepadan dengan apa yang ditawarkan oleh Ranca Upas, seperti penangkaran rusa, savana, hutan yang asri, dan udara yang bebas dari polusi dan segar.

Mengacu pada hasil pengolahan dan analisis data temuan mengenai pengaruh indikator price terhadap dimensi pull motivation wisatawan nusantara untuk melakukan perjalanan ke Kota Bandung selama masa pandemi Covid-19, disimpulkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat minat berwisata ke Kota Bandung yang tinggi bila diukur berdasarkan indikator price. Pada sub-indikator biaya perjalanan yang wajar, ditunjukkan bahwa mayoritas responden berminat berkunjung ke Kota Bandung dikarenakan biaya perjalanan yang wajar, ini didukung juga dengan anggapan biaya yang wajar dapat mencerminkan pemeliharaan tempat wisata dan protokol kesehatan yang ketat sehingga dapat menjamin keselamatan pengunjung.

Pada sub-indikator biaya perjalanan yang terjangkau, ditunjukkan bahwa mayoritas responden berminat berkunjung ke Kota Bandung dikarenakan biaya perjalanan yang terjangkau. Ini juga selaras dengan pernyataan Bapak Edward, Kepala Bidang Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung yang menyatakan Kota Bandung dinilai tepat pula menjadi tujuan wisata bagi wisatawan nusantara dengan preferensi melakukan perjalanan wisata untuk berbelanja. Selanjutnya, pada sub-indikator biaya perjalanan yang menarik, ditunjukkan bahwa mayoritas responden berminat berkunjung ke Kota Bandung dikarenakan biaya perjalanan yang menarik, yang mana menimbulkan minat yang tinggi dikarenakan kondisi perekonomian saat ini. Terakhir berdasarkan sub-indikator biaya yang sepadan dengan penawaran yang diberikan, ditunjukkan bahwa mayoritas responden berminat berkunjung ke Kota Bandung dikarenakan merasa biaya yang dikeluarkan sepadan dengan penawaran yang diberikan oleh destinasi-destinasi wisata pada Kota Bandung.

REFERENSI

 Jurnal Utama

Fakfare, P., Talawanich, S., & Wattanacharoensil, W. (2020). A scale development and validation on domestic tourists’ motivation: the case of second-tier tourism destinations. Asia Pacific Journal of Tourism Research, 25(5), 489–504. doi:10.1080/10941665.2020.1745855

Aebli, A., Volgger, M., & Taplin, R. (2021). A two-dimensional approach to travel motivation in the context of the COVID-19 pandemic. Current Issues in Tourism, 5-9. doi:10.1080/13683500.2021.1906631

Jurnal Pendukung

Crompton, J. L. (1979). Motivations for pleasure vacation. Annals of Tourism Research, 6(4), 408–424. https://doi.org/10.1016/0160-7383(79)90004-5

Pizam, A., Neumann, Y., & Reichel, A. (1979). Tourist satisfaction: Uses and misuse. Annals of Tourism Research, 6(2), 195–197. https://doi.org/10.1016/0160-7383(79)90146-4

Buku

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. (2021). Provinsi Jawa Barat dalam Angka. Jawa Barat: BPS Provinsi Jawa Barat

 

Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. https://www.kemenparekraf.go.id/asset_admin/assets/uploads/media/old_file/4636_1364-UUTentangKepariwisataannet1.pdf

Leave A Reply

Your email address will not be published.