Cakrawala News
Portal Berita Online

Analisis Daya Tarik Attraction Terhadap Motivasi Wisatawan Nusantara Untuk Berwisata Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi Pada Kota Bandung)

0

Analisis Daya Tarik Attraction Terhadap Motivasi Wisatawan Nusantara Untuk Berwisata Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi Pada Kota Bandung)

Oleh Ferick Omar Chehab (Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia)

Indonesia telah dikenal sebagai negara yang memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Indonesia juga menduduki peringkat pertama sebagai negara destinasi wisata terbaik untuk dikunjungi dengan skor 92,78, berdasarkan pilihan pembaca majalah Condé Nast Traveller pada tahun 2019. Selain memiliki beragam tempat wisata yang berhubungan dengan flora dan fauna, Indonesia juga memiliki beragam tempat wisata yang berhubungan dengan kebudayaan dan sejarah yang unik. Menurut Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Indonesia juga memiliki lima keunggulan pariwisata dibandingkan negara lain, yaitu daya saing harga, prioritas kebijakan, keterbukaan, daya tarik alam, serta daya tarik budaya sejarah.

Hadirnya pandemi Covid-19 berdampak pada penurunan pariwisata Indonesia yang terlihat dari menurunnya kunjungan wisatawan nusantara selama tiga tahun terakhir. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (2021), jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke berbagai wilayah Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 303,403,888 wisatawan; pada tahun 2019 sebanyak 282,925,854 wisatawan; dan pada tahun 2020 sebanyak 120,000,000 wisatawan. Menurunnya kunjungan wisatawan nusantara yang cukup signifikan akibat adanya pandemi Covid-19 berdampak pula terhadap menurunnya pemasukan devisa negara dari pertumbuhan pariwisata.

Oleh karena itu, travel motivation masyarakat Indonesia untuk melakukan kegiatan wisata sangat dibutuhkan dalam rangka memulihkan keadaan tersebut. Travel motivation merupakan motivasi dari para wisatawan mengapa mereka ingin berwisata. Tentunya travel motivation dari wisatawan nusantara perlu untuk diwujudkan secara nyata dengan melakukan kunjungan ke tempat wisata. Sehingga, mereka dapat membantu 92% dari 5.242 pekerja sektor wisata dan pengusaha sektor usaha kecil pariwisata yang terdampak selama masa pandemi yang berlangsung (egsaugm, 2021).

Pariwisata di Indonesia tentunya dapat terus berkembang dan beroperasi karena terdapat dorongan wisatawan sebagai pembuat keputusan perjalanan. Dalam mempelajari perilaku wisatawan, tentunya terdapat hal yang membuat seseorang bepergian (mengapa), tujuan dari kegiatan wisata tersebut (dimana), dan kepuasan apa yang diperoleh oleh wisatawan dalam perjalanannya. Menurut Fakfare, Talawanich, & Wattanacharoensil (2020), wisatawan tentunya dapat berwisata dengan didasari oleh beberapa faktor yang diklasifikasikan menjadi dua faktor motivasi, yaitu push and pull motivation. Di mana push motivation merupakan faktor pendorong dan mencakup segala sesuatu yang menekankan kekuatan dari internal individu, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri individu untuk melakukan perjalanan dan bersifat sosial-psikologikal. Push motivation terdiri dari beberapa indikator pengukurnya seperti knowledge seeking, ego enhancement, dan pride. Di sisi lain, pull motivation dapat diartikan sebagai faktor penarik yang menekankan kekuatan eksternal seperti hal-hal seperti yang terdapat pada tempat wisata yang ingin dikunjungi. Pull motivation terdiri atas beberapa indikator pengukur yaitu  responsibility, relaxation, tax deduction policy, socialization, local food, family bonding, price, dan attraction.

 Kegiatan pariwisata di Indonesia saat ini memerlukan proses adaptasi yang tidak biasa akibat adanya penyebaran pandemi Covid-19 yang melanda. Ketertarikan wisatawan untuk berwisata juga akan dipengaruhi oleh berbagai faktor pertimbangan seperti penekanan pada pembatasan kapasitas ruangan dan fasilitas wisata serta jumlah pengunjung akan memicu demotivasi wisatawan dalam melakukan perjalanan. Selain itu, wisatawan juga akan menekankan perhatian pada informasi tempat wisata yang transparan merujuk pada luas tempat terbuka, pedoman kesehatan/keamanan, serta aturan yang diterapkan pada suatu destinasi wisata. Informasi-informasi tersebut akan membuat wisatawan semakin yakin dan meningkatkan kepercayaan dan motivasi wisatawan untuk membuat keputusan perjalanan di samping karena faktor ketertarikan secara murni terhadap suatu tempat wisata tertentu (Aebli, Volgger, & Taplin, 2021).

Kota Bandung, yang berlokasi di Provinsi Jawa Barat, memiliki luas wilayah sebesar 167,31 km2. Kota Bandung secara administrasi dicatat terdiri atas 30 kecamatan dan 151 kelurahan. Hingga tahun 2020, Kota Bandung telah dihuni sebanyak 2.444.160 jiwa (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bandung, 2020). Kota terkenal dengan beberapa nama julukan seperti Kota Kembang, Paris Van Java, dan Lautan Api. Julukan yang melekat pada Kota Bandung tidak terlepas dari nilai historis dari kota tersebut. Contohnya, julukan Kota Kembang hadir karena Kota Bandung dahulu dihiasi dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang indah, selain itu, Bandung dijuluki Paris Van Java karena pada tahun 1920-an arsitektur bangunan di Kota Bandung memiliki gaya Eropa dan beberapa toko di Jl. Braga menawarkan berbagai macam pakaian yang diimpor dari Paris, lalu julukan Lautan Api atau Bandung Lautan Api muncul karena insiden pembakaran wilayah Bandung oleh penduduknya sendiri pada tanggal 26 Maret 1946. Kota Bandung merupakan kota dengan daya kunjung wisatawan nusantara tertinggi di Jawa Barat setelah Karawang dan Bogor dengan jumlah kunjungan masing-masing 9.951.723 wisnus dan 8.709.412 wisnus. Kota Bandung mengalami jumlah kunjungan sebanyak 8.406.250 wisatawan nusantara pada tahun 2018 lalu (sebelum pandemi).

Gambar 1. Jumlah Kunjungan Wisatawan Nusantara di Jawa Barat tahun 2018. Sumber: Diskominfo Jabar 2021 (diolah kembali oleh peneliti, 2021)

Namun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Barat menyebutkan bahwa terdapat penurunan jumlah wisatawan nusantara  ke Kota Bandung akibat pandemi sebesar 50% atau 3,2 juta wisatawan.

Kebijakan pembatasan yang ditetapkan pemerintah sebagai upaya penekanan persebaran Covid-19 secara masif memberikan dampak pada sektor pariwisata, terlihat dari lesunya roda ekonomi pada sektor wisata, termasuk di Kota Bandung. Masalah tersebut searah dengan pernyataan Edward Parlindungan, Kepala Bidang Kepariwisataan Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, yang menjelaskan bahwa sejak pemberlakuan PSBB secara proporsional pada Juni 2021, tempat wisata dan tempat hiburan di Kota Bandung sudah tidak beroperasi untuk mengikuti instruksi pemerintah (Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, 2021). Akan tetapi, dengan adanya pemberlakuan pelonggaran pembatasan dalam implementasi kebijakan PPKM mulai Agustus 2021, tempat pariwisata akhirnya diberi izin untuk dapat beroperasi kembali (Metro TV, 2021).

Kota Bandung memiliki beberapa destinasi pariwisata unggulan yang populer dikunjungi oleh wisatawan. Baik dari wisata seni dan budaya, sejarah, belanja, alam, maupun wisata kuliner. Mengutip dari laman Disbudpar Kota Bandung (2021), objek wisata rekomendasi untuk kunjungan wisatawan mencakup Studio Rosid, yaitu galeri seni media kayu, kanvas, ataupun media batu. Selain itu ada Nu Art, yang merupakan galeri seni di Bandung yang menyajikan karya seni berupa patung karya Nyoman Nuarta, pencipta Patung GWK, Patung Proklamasi, dan Patung Garuda yang berada di Bandara Soekarno-Hatta. Juga ada Museum Pos Indonesia yang menampilkan ribuan koleksi perangko dari berbagai belahan dunia. Museum Kota Bandung juga menjadi rekomendasi, karena juga menjadi sarana edukasi yang menampilkan informasi sejarah Kota Bandung. Museum Gedung Sate juga menjadi atraksi, dimana pengunjung akan disuguhi informasi sejarah pembangunan Gedung Sate dengan perpaduan teknologi digital seperti proyeksi 4D, augmented reality, dan virtual reality. Selain itu ada Museum Geologi yang menampilkan sejarah mengenai evolusi, bumi, dan fosil. Ada juga Museum Sri Baduga yang menyimpan koleksi etnografika dalam miniatur, foto, maket, dan replika. Terakhir, wisata populer Bandung adalah Saung Angklung Udjo yang menyajikan penampilan seni dan budaya Sunda. Selain bisa mengenal sejarah angklung dan cara memainkan angklung, Saung Angklung Udjo menawarkan pagelaran yang menampilkan pertunjukkan wayang golek, upacara Helaran, dan arumba.

Subjek penelitian atau pihak yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini merupakan wisatawan nusantara yang telah melakukan perjalanan wisata ke Kota Bandung selama Pandemi Covid-19. Wisatawan nusantara secara definisi merupakan orang yang menetap di suatu negara yang melakukan perjalanan wisata ke daerah di negara tempat tinggalnya (Maulana, 2016). Menurut BPS dalam Kajian Data Pasar Wisatawan Nusantara (2017), wisatawan nusantara terkait dengan beberapa karakteristik, yaitu: (1) Tanpa melewati teritorial negara; (2) Dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan; (3) Tidak bertujuan untuk mencari penghasilan di tempat yang dikunjungi; (4) Bukan perjalanan yang dilakukan secara rutin; (5) Mengunjungi objek wisata komersial dan/atau menginap di akomodasi komersial; dan (6) Dengan jarak sama dengan atau lebih dari 100 kilometer pergi-pulang. Wisatawan memberikan kontribusi terbesar pada sumber pemasukan pariwisata terhadap Output, Nilai Tambah Bruto, Kompensasi Tenaga Kerja, dan Pajak Atas Produk Neto (Badan Pusat Statistik, 2019).

Gambar 1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Domisili (n=411). Sumber: Data Olahan Peneliti, 2021

Berdasarkan data perolehan peneliti, terakumulasi bahwa responden terbanyak , dilihat berdasarkan domisilinya, merupakan wisatawan nusantara yang berdomisili di Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 41,6 persen atau sebanyak 171 orang dari total responden (sebanyak 411 orang). Responden terbanyak selanjutnya berasal dari Provinsi Jawa Barat, yaitu sebesar 40,4 persen atau sebanyak 166 orang. Selanjutnya, responden terbanyak di peringkat ketiga bertempat tinggal di Provinsi Banten, yaitu sebesar 11,9 persen atau sebanyak 49 orang dari total responden penelitian. Diluar tiga daerah tersebut, responden lainnya berasal dari Jawa Tengah dan Bali masing-masing sebesar 2 persen dan 1,5 persen atau sebanyak 8 orang dan 6 orang, Jawa Timur sebesar 1 persen atau sebanyak 4 orang, Kalimantan Selatan sebanyak 0,5 persen atau sebanyak 2 orang, lalu daerah D. I. Yogyakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Kepulauan Riau masing-masing menyumbang responden dengan besaran yang sama yaitu 0,2 persen atau sebanyak 1 orang.

Karakteristik responden penelitian ini berdasarkan domisilinya cukup sejalan dengan data sebaran jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) menurut provinsi asal tahun 2019 dari Badan Pusat Statistik, yang digambarkan sebagai berikut:

Grafik 2.2 Sebaran Jumlah Perjalanan Wisatawan Nusantara (Wisnus) Menurut Provinsi Asal, 2019.
Sumber:  Badan Pusat Statistik, 2020

Grafik 2.2 menggambarkan peringkat provinsi dengan total perjalanan yang telah dilaksanakan oleh wisatawan nusantara paling besar selama kurun waktu Januari hingga Desember 2019. Grafik menampilkan bahwa sebagian besar perjalanan dilakukan oleh wisatawan asal wilayah Jawa. Wisatawan nusantara dari Provinsi Jawa Timur melakukan perjalanan terbanyak, kontribusinya sekitar 18,41 persen dari jumlah perjalanan wisata di Indonesia. Kedua terbanyak adalah wisatawan nusantara dari Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah yang mencapai sekitar 17,41 dan 13,86 persen. Selanjutnya, wisatawan nusantara di luar Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang terbanyak melaksanakan perjalanan adalah dari Provinsi DKI Jakarta dan dilanjut wisatawan nusantara dari Banten. Total wisatawan nusantara dari DKI Jakarta yang melaksanakan perjalanan selama kurun waktu tersebut mencapai sekitar 7,66 persen dari seluruh perjalanan wisata di Indonesia. Selanjutnya diikuti oleh wisatawan nusantara dari Banten yang menyumbang angka sebesar 4,03 persen. Atmosfer ini hampir mirip dengan tahun 2018 yang juga didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa.

Gambar 1. Individu Pergi ke Kota Bandung di Masa Pandemi untuk Melihat Situs Bersejarah. Sumber: Data Olahan Peneliti, 2021

Mengacu pada data, terdapat dominasi sebesar 48,9% atau sebanyak 201 responden menjawab sangat tidak setuju. Hal ini menunjukkan bahwa tidak banyak wisatawan memiliki keinginan mengunjungi Kota Bandung untuk melihat situs bersejarah. hal ini didukung oleh pernyataan dari Edward Parlindungan yang mengatakan bahwa Kota Bandung memiliki situs-situs bersejarah seperti museum, tetapi pemerintah Kota Bandung tetap harus bersikap adaptif terhadap kondisi yang ada dan menetapkan untuk menutup situs museum pada saat pandemi.

“…Itu saja yang kami miliki, di samping memang ada museum-museum. Tapi museum-museum kan selama pandemi tidak buka, gitu.” (Wawancara mendalam dengan Edward Parlindungan S.Sos, MT., Kepala Bidang Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung).

Gambar 2. Individu Pergi ke Kota Bandung untuk Mengunjungi Warisan Cagar Budaya. Sumber: Data Olahan Peneliti, 2021

Berdasarkan data yang peneliti peroleh, daya tarik dan kunjungan wisatawan ke warisan cagar budaya di Bandung cenderung cukup rendah dibuktikan dengan dominasi jawaban responden yang menjawab sangat tidak setuju sebesar 48,7% atau sebanyak 200 responden. Namun, pemerintah Kota Bandung berencana untuk mengupayakan pemberdayaan cagar budaya secara lebih optimal kembali dengan merencanakan pembangunan destinasi wisata baru dengan mengimbau pembentukan Kampung Wisata Kreatif di 30 kecamatan.Bandung itu tidak punya seperti wisata alam, banyaknya ya itu, tempat belanja, tempat makan, itu Kota Bandung. Makanya sekarang kita sedang mengembangkan Kampung Wisata Kreatif di 30 kecamatan.”  (Wawancara mendalam dengan Edward Parlindungan S.Sos, MT., Kepala Bidang Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung).

 

Gambar 3. Individu Pergi ke Kota Bandung untuk Mengunjungi Cagar Alam/. Sumber: Data Olahan Peneliti, 2021

Pada pertanyaan sub-indikator Attraction ketiga, terlihat bahwa sebesar 41,6% atau sebanyak 171 responden menjawab Sangat Tidak Setuju terhadap motivasi pergi ke Kota Bandung untuk mengunjungi cagar alam. Namun, di lain sisi, grafik di atas menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak responden yang berpendapat Setuju dan Sangat Setuju dibandingkan dengan dua pertanyaan sub-indikator Attraction lain sebelumnya. Hal ini didukung dengan pernyataan bahwa wisatawan lebih tertarik untuk mengunjungi wisata alam yang bersifat terbuka dan luas selama adanya pandemi seperti saat ini karena adanya perasaan aman dan asumsi terhadap risiko penularan yang lebih kecil. “Kalau menurut kami, kacamata kami sebagai pengelola, karena wisata alam itu lebih aman dibanding wisata-wisata yang sifatnya outdoor atau sifatnya wisata-wisata buatan.” (Wawancara mendalam dengan Eko Singgih Kurniawan, Site Manager Wana Wisata Ranca Upas).

 Mengacu pada hasil pengolahan dan analisis data temuan mengenai pengaruh indikator attraction terhadap motivasi wisatawan nusantara untuk melakukan perjalanan ke Kota Bandung selama masa pandemi Covid-19, disimpulkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat minat berwisata ke Kota Bandung yang rendah bila diukur berdasarkan indikator attraction. Pada sub-indikator situs bersejarah, ditunjukkan bahwa tidak banyak responden yang berminat berkunjung ke Kota Bandung untuk melihat situs bersejarah, didukung dengan adanya kebijakan penutupan museum-museum selama pandemi. Pada sub-indikator warisan cagar budaya, mayoritas responden sangat tidak setuju terhadap pernyataan memiliki motivasi pergi ke Kota Bandung untuk mengunjungi warisan cagar budaya, dimana hal ini berkaitan dengan fakta bahwa Kota Bandung tidak memiliki banyak wisata cagar budaya. Selanjutnya, pada sub-indikator cagar alam, responden juga menunjukkan bahwa minat berwisata ke Kota Bandung tidak didasari oleh keinginan mengunjungi cagar alam, sejalan dengan pernyataan dari Kepala Seksi Analisis Destinasi Kemenparekraf bahwa potensi tinggi angka kunjungan wisatawan Kota Bandung yang utama ada pada industri kreatif baik kuliner dan fashion, melihat bahwa wisata alam dan potensinya tidak terletak tepat di Kota Bandung.

 

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal

Aebli, A., Volgger, M., & Taplin, R. (2021). A two-dimensional approach to travel motivation in the context of the Covid-19 pandemic. Current Issues in Tourism, 5-9. doi:10.1080/13683500.2021.1906631

Fakfare, P., Talawanich, S., & Wattanacharoensil, W. (2020). A scale development and validation on domestic tourists’ motivation: the case of second-tier tourism destinations. Asia Pacific Journal of Tourism Research, 25(5), 489–504. doi:10.1080/10941665.2020.1745855

Maulana, A. (2016). Pengaruh Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Perjalanan Wisatawan Nusantara Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pariwisata di Indonesia. Jurnal Kepariwisataan Indonesia, 11(1), 119–143. http://www.kemenpar.go.id/userfiles/06_ JKI_ Vol_ 11 No 1 Juni 2016_ Addin Maulana_ Pengaruh Kunjungan Wisman dan Perjalanan Wisnus terhadap penyerapan tenaga kerja sektor pariwisata indonesia(1).pdf

Dokumen Lembaga

Badan Pusat Statistik. (2020). Statistik Wisatawan Nusantara 2019. (Badan Pusat Statistik, Ed.).  Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik. (2019). Neraca Satelit Pariwisata Nasional (NESPARNAS) 2017. (Subdirektorat Statistik Pariwisata, Ed.). Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik, & Kementerian Pariwisata. (2017). Kajian Data Pasar Wisatawan Nusantara 2017. (Badan Pusat Statistik, Ed.). Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pariwisata.

Website

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bandung. (2020). Jumlah Kepadatan Penduduk Kota Bandung Berdasarkan Kecamatan (Rekap Tahunan). Bandung, Disdukcapil. Retrieved November 127, 2021, from Open Data Bandung: http://data.bandung.go.id/organization/dinas-kependudukan-dan-pencatatan-sipil

Jumlah Wisatawan ke Kota Bandung Turun 50 Persen. (2021, March 18). Retrieved November 18, 2021, from Prokopim Kota Bandung (Jendela Informasi Kota Bandung): https://humas.bandung.go.id/layanan/jumlah-wisatawan-ke-kota-bandung-turun-50-persen

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.