Raksasa Properti China Terpuruk, Bagaimana Nasib Ekonomi Global?

Raksasa Properti China Terpuruk, Bagaimana Nasib Ekonomi Global?

 

Oleh Cita Pramudita Nabila Syifa

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

 

Raksasa properti China Evergrande selama beberapa waktu terakhir marak menjadi topik perbincangan publik. Evergrande Group yang didirikan oleh pengusaha asal China Hui Ka Yan pada tahun 1996 di Guangzhou, merupakan perusahaan yang beroperasi dalam bidang properti yang membangun pusat perbelanjaan dan perkantoran, membuat manufaktur dan mobil listrik, bahkan saat ini Evergrande mempunyai cakupan yang lebih luas, yakni lebih dari pengembangan real estate dengan 1.300 proyek di 280 kota, dan memiliki aset senilai $350 miliar.

Evergrande sebagai perusahaan pengembang real estate terbesar di China ini dalam perjalanannya berkembang secara agresif yang menyebabkan raksasa properti ini terlibat hutang dengan meminjam dana lebih dari $300 miliar yang setara Rp4.277 triliun dalam kurs Rp14.250 per dolar AS.

Dana tersebut diantaranya berasal dari hutang pada kontraktor konstruksi, pemegang obligasi, bank dan kreditur lainnya yang mana menurut laporan perusahaan sebesar $37,3 miliar dari hutang tersebut telah jatuh tempo dalam waktu satu tahun atau hampir tiga kali lipat dari $13,5 miliar dari kepemilikan tunai Evergrande. Dilansir dari BBC (2021), upaya perusahaan real estate terbesar untuk membayar bunga atas hutang tersebut telah membuat harga saham Evergrande selama satu tahun terakhir ini jatuh hampir 90%.

Kewajiban Evergrande untuk membayar hutang yang melebihi $300 miliar tersebut kepada investor internasional memunculkan resiko gagal bayar dan mungkin tidak dapat mencukupi kewajiban keuangannya dan obligasi luar negerinya.

Hal tersebut memicu ketidakpastian sistem keuangan global akibat Evergrande yang melewatkan pembayaran bunga, mengalami penurunan peringkat kredit dan protes investor yang menimbulkan kekhawatiran akan menghantam pasar global, serta menghambat pertumbuhan global. Selain itu, adanya aksi jual pasar yang meluas juga ditakutkan terjadi, yang mana bukan hanya dalam lingkup pasar digital tetapi juga pasar saham tradisional. Berbagai resiko dalam kasus ini dikhawatirkan mengacu kepada kasus Lehman Brothers yakni bangkrutnya bank raksasa Amerika Serikat yang menimbulkan krisis keuangan dunia pada tahun 2008.

Beberapa ahli memperkirakan bahwa restrukturisasi Evergrande ini dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun, jika pihak yang bersangkutan dapat menghindari tekanan keuangan global setelah Lehman Brothers, maka memungkinkan bahwa dampaknya tidak akan sebesar kasus tersebut.

Krisis Evergrande bukan hanya terikat dengan investor asing, melainkan juga pada perusahaan yang bekerjasama, dan konsumen properti yang mana telah membayar deposit bahkan sebelum pembangunan dimulai.

Dengan adanya krisis ini, efek domino yang dikhawatirkan adalah perekonomian global yang diantaranya dapat berpotensi menimbulkan kenaikan ekspor-impor, mitra dagang yang terkena imbas, dan terganggunya sektor properti dari negara lain. Dalam realitanya ekonomi China memang sangat besar, sehingga seperti yang dikatakan oleh Chang, “Jika China terkena masalah yang serius dan itu disebabkan oleh Evergrande, maka seluruh dunia dapat terkena dampaknya”.

Apabila Evergrande gagal membayar hutang, maka bank akan memberi pinjaman yang lebih sedikit, sehingga hal tersebut dapat melahirkan krisis kredit yang akan berdampak buruk bagi ekonomi global karena perusahaan properti ini akan sulit untuk berkembang dan beroperasi. Selain itu, hilangnya rasa kepercayaan investor asing dan sikap lebih berhati-hati kepada China sebagai tempat untuk menginvestasikan uang mereka.

Potensi kebangkrutan Evergrande, menimbulkan berbagai pihak menyarankan agar pemerintah China turun tangan. Dikutip dari BBC (2021), Mattie Bekink dari Economist Intelligence Unit mengatakan bahwa “Daripada memilih untuk mengambil resiko yang akan mengganggu rantai pasokan, kami pikir pemerintah dapat melakukan serta menemukan cara lain untuk memastikan bisnis Evergrande tetap bertahan”.

Sementara, disisi lain terdapat beberapa pihak yang didukung oleh Hu Xin Jin mengatakan bahwa Evergrande tidak boleh bergantung terhadap pemerintah dan sebaiknya bisa menyelamatkan dirinya sendiri karena mungkin krisis ini tidak akan memacu dampak global, sebab sebagian besar saham Evergrande berada pada investor kaya luar negeri.

Menurut MacAdam dalam Capital Economics Investor mengatakan bahwa “Default kelola atau keruntuhan Evergrande akan menimbulkan sedikit dampak global diluar beberapa turbulensi pasar”. Dilihat dari obligasi mata uang asing, Evergrande memiliki tanah senilai $215 miliar dan mata uang asing sebesar $18 miliar serta terdapat sebagian proyek yang selesai.

Berdasarkan kasus yang melanda Evergrande Group tersebut, jika perusahaan tidak dapat menangani tanggungan hutangnya dan tercipta kerugian bagi pemegang obligasi serta bank, maka yang harus ditinjau adalah bagaimana kebijakan pemerintah China bisa mencapai keseimbangan, yakni antara menanggung resiko besar-besaran sehingga China kehilangan akses investasi asing atau melanjutkan kebijakan pasar properti yang ketat. Pemerintah China dalam hal ini akan dihadapkan pada posisi yang sulit dimana raksasa properti tersebut akan mengancam sistem keuangan dan pasar properti jika benar-benar bangkrut. Namun, jika pemerintah memutuskan untuk terlibat, maka dapat memunculkan pandangan yang salah bahwa pemerintah menyelamatkan perusahaan yang terjerat hutang. Sebenarnya, pemerintah China mempunyai berbagai cara untuk menyelesaikan problematika ini, baik untuk membungkam media massa, mengetatkan sektor keuangan serta perbankan. Namun, pemerintah memilih untuk berhati-hati dalam mengambil langkah. Sementara itu, agar bisa terus beroperasi, Evergrande mungkin perlu untuk mencari sumber dana baru dan bernegosiasi dengan para regulator serta pemegang obligasi.

Dengan demikian, jika krisis raksasa properti China ini tidak kunjung menemukan titik akhir ataupun tidak mendapatkan campur tangan dari pemerintah China, maka dampaknya akan masuk ke ranah global yakni dampak terhadap perdagangan dunia dan pasar keuangan serta menimbulkan ketidakpastian ekonomi hingga beberapa bulan atau tahun kedepan. Evergrande dianggap sebagai korban dari upaya kekuasaan Partai Komunis untuk mengendalikan kenaikan hutang yang dilihat pemerintah China sebagai probabilitas ancaman terhadap aspek ekonomi. Maka dari itu, antara pihak Evergrande maupun pemerintah China hendaknya perlu bertindak cepat karena krisis ini telah menimbulkan dampak yang krusial.

References

Hamid, E. S. (2009, July). Akar Krisis Ekonomi Global dan Dampaknya Terhadap Indonesia. Jurnal Ekonomi Islam, III.

Hoskins, P. (2021, December 9). Evergrande: China property giant misses debt deadline. BBC. Retrieved December 23, 2021, from https://www.bbc.com/news/business-58579833

How the Chinese Evergrande crisis affects global markets. (2021, September 21). TRT World. Retrieved December 23, 2021, from https://www.trtworld.com/magazine/how-the-chinese-evergrande-crisis-affects-global-markets-50122

Kasus Krisis Evergrande Berpotensi Rugikan Ekonomi Global, Ini Penjelasannya. (2021, October 1). IDX Channel. Retrieved December 23, 2021, from https://www.idxchannel.com/economics/kasus-krisis-evergrande-berpotensi-rugikan-ekonomi-global-ini-penjelasannya

Krisis Akut Properti China, Awas! Siap Meledak. (2021, December 7). CNBC Indonesia. Retrieved December 23, 2021, from https://www.cnbcindonesia.com/market/20211207074044-17-297169/krisis-akut-properti-china-awas-siap-meledak

Krisis Evergrande di China Bisa Pengaruhi Ekonomi Global? Halaman all – Kompas.com. (2021, September 21). Money Kompas.com. Retrieved December 23, 2021, from https://money.kompas.com/read/2021/09/21/132555526/krisis-evergrande-di-china-bisa-pengaruhi-ekonomi-global?page=all

Mengukur Risiko Gagal Bayar Evergrande Picu Krisis Keuangan – Halaman 2. (2021, September 30). CNN Indonesia. Retrieved December 23, 2021, from https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210930140543-78-701545/mengukur-risiko-gagal-bayar-evergrande-picu-krisis-keuangan/2

Oi, M. (2021, December 20). Evergrande: China’s efforts to contain its Lehman moment. BBC. Retrieved December 23, 2021, from https://www.bbc.com/news/business-59605130

 

 

 

ChinaEkonomi Global
Comments (0)
Add Comment