Cakrawala News
Portal Berita Online

Ada Pelangi Cantik Di Air Terjun Kedabuhan

cakrawala.co, Subulussalam – Siang itu cuaca sedikit mendung, kala rombongan kami, Amri, Hendri, Mimi, Juned, Popi, Guci dan saya yang tergabung di Komunitas Pemuda Pecinta Alam Kota Subulussalam (Komppas) bersepakat untuk menghabiskan siang hingga petang hari itu, dengan bersantai sambil menikmati pesona air terjun Kedabuhan dan rindangnya alam Hutan Kayu Kapur, yang terletak di taman hutan rakyat, Tahura desa Jontor, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam.

Hanya butuh berkendara sekitar 15 menit dari pusat Kota sampai ke gerbang lokasi air terjun, yang tempatnya berada didalam areal hutan kayu kapur, pinggiran sebelah timur Kota Subulussalam, perbatasan Provinsi Aceh-Sumatera Utara.

Kami memang kerap menghabiskan waktu senggang dilokasi ini, selain jarak yang tak begitu jauh dari Pusat Kota, kesejukan udara karena lokasinya yang masih asri membuat betah berleha-leha, ketimbang menghabiskan waktu di wilayah kota yang gerah, pengap dan penuh dengan polusi dari asap cerobong-cerobong pabrik pengolah kelapa sawit dan knalpot kendaraan-kendaraan yang berseliweran.

Selain itu suasana yang sepi juga jadi alasan tersendiri, lokasi air terjun tersebut memang jarang didatangi orang, penyebabnya karena pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga yang kemiringannya hampir 70 derajat, sehingga bagi yang fisiknya kurang fit akan enggan kemari, ini membuat kami merasa bebas, saat berada dilokasi ini kami merasa seolah-olah hutan ini adalah milik kami, dan kamipun seperti bisa menyatu dengan semua keindahan yang disajikan tempat ini.

Tak hanya kami anggota Komppas, siang itu 2 orang teman kami, warga negara asing yang sedang berada di Kota Subulussalam, yaitu Jade dari London Inggris, dan Benoa asal Belgia juga penasaran dengan cerita kami soal kemegahan yang disajikan air terjun besar yang ketinggiannya mencapai 50 meter, keindahan alam yang masih asli dan terjaga dari jamahan tangan-tangan usil manusia ini, membuat mereka penasaran setengah mati dan ngotot untuk ikut serta dengan kami.

Sebenarnya kami punya alasan khusus, hingga akhirnya mengijinkan mereka bergabung siang itu, Kami punya rencana ingin “mengerjai” 2 orang teman asing kami itu, karena dalam bayangan kami tentu akan sangat lucu ketika 2 orang turis gaul terengah-engah dan minta-minta ampun, saat mau tak mau  harus mendaki ratusan tangga curam demi agar bisa pulang ke kota, “habitat” aslinya mereka, dalam benak kami, kami membayangkan akan ada banyak bahan ledekan dan tertawaan penghibur lelah, saat mendaki tangga nan tinggi, sepulangnya dari air terjun nanti.

Perjalanan pun dimulai, mengendarai 5 unit sepeda motor selama sekitar 15 menit, kami pun mengarah ke Desa Jontor dan memasuki wilayah hutan Kapur, lalu meninggalkan sepeda motor di pinggiran hutan dan mulai menuruni tangga demi tangga, menuju ke air terjun.

Sekitar 25 menit downhill, kami tiba di pinggiran sungai Lae Kombih, dari sini deburan suara air terjun sudah mulai terdengar, bergegas kami pun melanjutkan berjalan diantara rimbunnya pohon paku-pakuan, menyusuri tepian sungai sekitar 5 menit, dan di balik tikungan bebatuan cadas, air terjun yang lebarnya sekitar 15 meter dengan tinggi 50 meteran yang megah itu pun, menyambut kami.

2 orang teman asing kami ternganga dan tak henti-henti mengucapkan terimakasih, telah di ajak ke tempat ini, bagi mereka air terjun yang besar dan setinggi ini baru kali ini mereka lihat langsung dengan mata kepala sendiri, tebing-tebing batu tua yang menjulang mengelilingi sekitar air terjun membuat mereka takjub tak henti-henti, apalagi kejernihan air sungai di bawah air terjun yang meski sangat dalam namun dasarnya masih kelihatan, membuat mereka tak henti-henti mencuci muka dan meminum air alam nan sejuk itu.

Tepat dibagian bawah air terjun terdapat kolam lebar air menyerupai danau bulat, yang terbentuk karena derasnya hempasan air terjun, meski menggoda namun kami tak pernah mengijinkan teman mau pun anggota kami untuk berenang di situ, sebab ombak yang terbentuk dari hempasan air terjun memiliki arus bawah air, sehingga rawan terseret bila berenang dilokasi itu, saat Benoa mencoba merendam kakinya kami pun melarang, “cukup nikmati dari tepi saja”, peringatan kami.

Sore menjelang, dan ada kemewahan tersendiri bila pengunjung datang saat cuaca sedikit mendung, cahaya matahari yang hilang dan timbul akibat awan memunculkan fenomena alam, berupa pelangi yang melingkar dan melintas tepat di badan air terjun, pelangi ini akan hilang dan timbul mengikuti cahaya matahari, bila matahari menyembul dari balik awan pelangi akan muncul, lalu kembali menghilang saat matahari tertutup awan.

Bagi Jade, fenomena ini begitu menakjubkan, bahkan ia sempat menyamakan keindahan pelangi ini dengan aurora, yaitu cahaya-cahaya berbagai warna yang muncul saat malam di langit kutub.

Bersama Benoa, mereka bahkan sempat mengutip Frasa dari suku Native Indian “When the last tree is cut, the last river poisoned, and the last fish dead, we will discover that we can’t eat money” yang artinya saat pohon terakhir di tumbangkan, saat sungai terakhir di racuni, dan saat ikan terakhir mati, kita akan sadar bahwa uang tak bisa dimakan, ungkapan ini beberapa kali mereka ulang-ulang disela-sela perbincangan, dengan harapan lokasi yang asri dan indah ini bisa terus terjaga dan tak dirusak seperti daerah-daerah cantik lain yang telah dirusak tangan manusia.

Untuk kami, meski telah berulang kali menyaksikan fenomena air terjun dan pelangi ini, tetap saja merasa takjub, betapa tuhan menganugerahi kami tempat yang seindah ini, kami pun berharap bisa terus menikmati dan ikut menjaga tempat ini agar tetap seperti adanya, untuk anak cucu kelak.

Puas menikmati lokasi, kami pun memutuskan untuk kembali ke kota, sebelum gelap tiba.

Dan sesi “mengerjai” teman asing kami pun di mulai, sengaja mereka kami suruh berjalan paling depan, agar kami bisa melihat raut dan ekspresi letih ngomel-ngomel minta ampun mereka saat mendaki tangga, sebagai bahan ledekan agar rasa capek mendaki ratusan anak tangga yang terjal tak terlalu kami rasakan, 15 menit pertama mendaki ke 2 teman asing kami itu pun terlihat mulai bercucuran keringat, seluruh pakaian mereka basah, dan kami pun bersiap melontarkan ledekan, namun bukannya berhenti, mereka malah terus mendaki sehingga lelucon-lelucon yang telah kami persiapkan pun terpaksa kami simpan kembali.

Namun, kami tak putus asa, mungkin hajat meledek dan membuli teman asing kami itu akan bisa kami tuntaskan dengan tawa yang selepas-lepasnya, saat nanti sudah tiba di puncak, lokasi dimana sepeda motor kami parkir, kami membayangkan teman-teman asing kami itu mukanya akan memerah, lutut gemetaran sambil bersumpah serapah, mereka akan bergelatakan di tanah karena kelelahan, sebab baru pertama kali mendaki tangga super terjal yang seperti ini, membayangkan itu kami pun semakin bersemangat mendaki, tak peduli lutut gemetaran karena mendaki tak henti, yang penting segera sampai di parkiran.

Tiba diparkiran, ke 2 teman asing kami terlihat ngos-ngosan dan kami pun gembira, sebab ini lah saatnya kami akan mengolok-olok mereka, membuli dan mengetawai ekspresi kelelahan mereka, si turis-turis gaul yang masuk hutan, saat semua rombongan tiba di parkiran, semua kawan-kawan antusias berkumpul dan bersiap-siap meledek, sebelum Benoa tiba-tiba merogoh-rogoh isi tasnya, mencari-cari kamus, saat menemukan ia pun duluan menyeru kami, “hei temans, capek? saya daki mudah!”, asem!, muka kami pun masam.

(Ron)

%d bloggers like this: