Cakrawala News
Portal Berita Online

Ada Beberapa Etika Standar yang Wajib Dilakukan di Ranah Digital, Ini Ulasannya Bersama Enda Nasution

0 154

KABUPATEN CIREBON JABAR CAKRAWALA.CO – Media sosial memang tempat untuk berbincang, berinteraksi dan berkomunikasi. Ada berbagai jenisnya bisa via teks, gambar, audio, video, emoji bahkan sticker. Maka dalam berinteraksi harus ada landasan etika sosial dalam norma sosial.

Ada beberapa etika standar yang wajib dilakukan di ranah digital. Sebenarnya ini tidak jauh berbeda dengan dunia nyata. Namun karena orang merasa seperti di dalam ponsel maka sering kali bertindak seenaknya. Tidak tatap muka buka berarti orang tersebut tidak bisa menjarat kita dengan hukum atau sanksi sosial jika dianggap tidak menyenangkan.

Poin-poin tersebut disampakaian Enda Nasution, Koordinator Gerakan #BijakBersosmed dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (15/6/2021). Ada empat poin dasar beretika di media sosial yang harus diperhatikan.

Pertama sadar, berinteraksi offline dan online dibutuhkan kesadaran tinggi. Sadar ketika berkomentar, mengunggah sesuatu ataupun melakukan aktivitas digital lainnya. Kedua hormat, hormatilah waktu, privasi dan hak intelektual diri sendiri dan orang lain. Ketiga jadilah sensitive pada perspektif atau pandangan orang lain, apa yang menurut kita benar belum tentu demikian dari sudut pandang orang. Terakhir adalah jika tidak yakin, maka bertanyalah.

“Dalam budaya Jepang ada yang namanya Omotenashi yang merajuk pada sikap keramahtamahan. Di sana, sebuah layanan yang memikirkan orang lain adalah the highest level of service. Itulah yang harus kita terapkan ke diri sendiri. Di media sosial kita mengantisipasi apa yang akan disampaikan. Contoh sederhana mau telepon ke WhatsApp itu kan cukup personal, ada baiknya teks dulu tanyakan. Jangan main telepon di waktu yang juga kadang nggak umum,” ujar Enda.

Lalu apa yang bisa kita lakukan agar lebih bijak? Ada beberapa hal seperti kalau suka akan sebuah post beri komentar, reaksi positif dan relevan. Tambahkan informasi baru dan perspektif yang berbeda pada postingan kita. Baca posting secara menyeluruh sebelum memberikan komentar jangan sampai salah komen. Kalau merasa ada kesalahan pada postingan kita, edit, hapus dan minta maaf. Dalam diskusi, fokus ke masalah jangan menyerang orang pribadi. Tambahkan emoji untuk memperjelas kesan / nada komen.

Social media adalah etalase, orang akan memandang kita dari apa yang kita posting dan ucapkan. Apakah kita orang dipercaya atau suka ngomong kasar. Diukur aja mana yang kira-kira pantas. Mulai dari diri kita dan kemudian ajak sekitar. Konten positif dan produktif. Lebih baik menyalakan lilin daripada kita terus mengutuk kegelapan,” tutup Enda.

Webinar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Siberkreasi wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (15/6/2021) ini juga turut menghadirkan pembicara yaitu Martha Simanjuntak (Founder IWITA – Indonesia Woment IT Awarness), Matahari Timoer (Digital Literacy Office ICT Watch), Fikri Andhika Hardiansyah (Program Director Next Generation Indonesia) dan Key Opinion Leader, Rio Silaen.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada tahun 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***red

Leave A Reply

Your email address will not be published.