Cakrawala News
Portal Berita Online

5 Fakta Kejadian Anak Dibawah Umur Dituduh Mencuri, Namun Tak Terbukti

0 1.423

SIDOARJO, CAKRAWALA.CO – Inilah deretan fakta kasus penganiayaan anak dibawah umur warga Diwek, Kecamatan Jombang.

Kasus ini sempat ramai dikalangan warga sendiri, buktinya Hari Sabtu (9/5) di Kantor Desa Kajeksan puluhan warga demo menuntut ke pihak Pemdes untuk segera menyelesaikan permasalah ini.

1. Awal Mula Kejadian

Dicky Pribadi (DP) 16 tahun diketahui sudah tinggal di Ponpes Darunnajah di Desa Kajeksan, Kecamatan Tulangan. Korban bekerja ke Ainur Rofik (anak dari pengasuh Ponpes) sebagai buruh angkut dan kernet, dia merantau dari Jombang ke Sidoarjo demi menyambung hidup mencari rezeki.

Namun naas pada hari Kamis 7 Mei 2020 sekitar pukul 02,00 Wib di Jl. Desa Kajeksen RT 03 RW 01, telah
terjadi tindak pidana Kekerasan terhadap anak yang diduga dilakukan oleh massa, namun berdasarkan laporan korban ke SPKT Polresta Sidoarjo menyebutkan pelaku penganiayaan diantaranya oknum Polisi atas nama Heri dan oknum ASN Hari yang bekerja di lingkungan DPRD Sidoarjo.

Warga menangkap DP saat diketahui masuk ke pekarangan milik warga atas nama Saiful. Disaat itu warga desa sedang jaga malam dalam rangka PSBB.

Korban salah tangkap bertelanjang dada dan hanya memakai celana dalam

2. Ada dua anak kecil saat malam penangkapan.

Redaksi cakrawala.co mendapatkan video dua anak kecil diduga masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) menjadi saksi atas tertangkapnya DP. Namun dua anak tersebut tidak dibawah ke kantor desa Kajeksan. Dan lebih beruntungnya lagi dua anak tersebut tidak mengalami penganiayaan.

Dalam video berdurasi 1 menit 54 detik, dua anak tersebut ditanya seorang warga yang suaranya terekam. “kamu sedang ngapain malam-malam” jawab mereka “Apine ngolek telo gawe bakar-bakar”.

Diduga lantaran dua anak tersebut warga setempat sehingga warga tidak membawanya ke kantor balai desa.

3. Korban diantarkan orangtua ke Kantor Polisi

Setelah tidak terbukti melakukan pencurian. DP pulang ke Jombang. Namun mengetahui anaknya mengalami luka dibagian leher kanan dan kiri, luka lecet diduga bekas sulutan rokok di punggung dan memar pada bagian pelipis.

Sambang, ortu DP, warga Desa Tanggungan RT 04 RW 09, Kecamatan Diwek, Jombang. Didampingi Ainur Rofik yang merupakan Bosnya. Melapor ke Polresta Sidoarjo pada ke esokan harinya Jumat 8 Mei 2020.

Setelah menjalani proses laporan dan pemeriksaan lanjutan di RSUD Sidoarjo berupa visum et repertum. Lalu keluar satu lembar surat Laporan Polisi (LP) Nomor : STTLP/169/V/2020/Jatim/Resta SDA, tertangal (8/5). Dalam perkara Kekerasan Terhadap Anak. Terlapor Hari dkk, dan pasal yang tertulis dalam LP menyebutkan Pasal 80 UU RI no. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

4. Penganiayaan Diduga terjadi di Kantor Desa Kajeksan

Berdasarkan pengakuan Hari Sulistiyono, oknum ASN DPRD Sidoarjo yang namanya disebutkan oleh korban DP. Warga emosi dan tak terkontrol lantaran DP saat diamankan dan ketika ditanya dalam pengakuannya mencla-mencle. Diduga DP tertekan saat di introgasi massa, sehingga saat ditanya tidak fokus dalam jawabanya.

“Ada massa sekitar 20 orang, di kantor Balai desa. Dia (DP) yang terindikasi Tersangka. Tidak membawa identitas, pada waktu ditangkap ada dua anak kecil. Saya akui saat itu warga geram ada sedikit penekanan dalam bahasa digertak karena saat ditanya (DP) mencla-mencle. Namun saya tidak melakukan penganiayaan kami hanya mengamankan untuk diamankan di pihak desa dan disaksikan ada pihak Babinsa Polsek Tulangan. Soal siapa yang melakukan pemukulan saya tidak tau,” Ujar Hari saat ditanya wartawan.

5. Jangan main hakim sendiri

Main hakim sendiri adalah istilah bagi tindakan untuk menghukum suatu pihak tanpa melewati proses yang sesuai hukum. Contoh dari tindakan main hakim sendiri adalah pemukulan terhadap pelaku kejahatan oleh masyarakat.

Riduwan, S.Sos salah satu Tokoh Masyarakat yang ikut melakukan pendampingan saat melapor ke Polresta Sidoarjo.

Menjelaskan atas peristiwa tersebut kenyataanya telah terjadi tindakan kekerasan terhadap anak dibawah umur yang terbukti tidak melakukan pencurian.

“Yang lebih parahnya lagi, dia (DP) di introgasi seperti maling curanmor kelas kakap, dilucuti pakaianya hanya memakai celana dalam. Kami mempunyai beberapa foto saat DP hanya memakai celana dalam. Di kantor balai desa Kajeksan. Kami hanya berhadap semestinya kita mengutamakan asas praduga tak bersala,” Ujar Riduwan, S.SOS yang juga menjabat sebagai Wakil ketua DPC PDI, Perjuangan, bidang Polhukam. (Uji/Rizal/Win)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.