Cakrawala News
Portal Berita Online
ads riau 2

4 Prinsip yang Harus Digunakan Saat Menggunakan Media Digital

0 61

KABUPATEN GARUT JABAR CAKRAWALA.CO – Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi menggelar acara webinar Literasi Digital untuk wilayah Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Garut pada Senin (7/6/2021).

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar dampak negatif penggunaan internet.

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat meluncurkan Gerakan Nasional Literasi Digital mengungkapkan, Pemerintah telah menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan akan berulang setiap tahunnya, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada tahun 2024. Oleh karena itu, dibutuhkan penyelenggaraan kegiatan literasi digital yang massif di 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia.

“Kecakapan digital harus ditingkatkan dalam masyarakat agar mampu menampilkan konten kreatif mendidik yang menyejukkan dan menyerukan perdamaian. Sebab, tantangan di ruang digital semakin besar seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, radikalisme berbasis digital,” ujar Presiden Joko Widodo saat membuka program Literasi Digital Nasional.

Pada kesempatan ini yang menjadi pembicara ialah Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Farid Zamroni yang mengulas soal prinsip etika di media sosial sebagai upaya untuk semakin bijak menggunakan media sosial.

Farid menjelaskan, ketika masuk dalam media sosial diawali dengan kesadaran yang menyangkut tata cara beretika. Sebenarnya etika ini sama dengan etika tradisional atau offline. Maksud sadar ialah melakukan sesuatu memiliki tujuan.

“Media digital yang cenderung instan seringkali membuat penggunanya melakukan sesuatu dengan tanpa sadar sepenuhnya. Tindakan otomatis misalnya, bangun tidur langsung buka gawai, buka media sosial. Ketika mendapatkan informasi langsung disebar tanpa cari tahu kebenaran,” ungkapnya.

Prinsip kedua adalah integritas, integritas dalam hal ini yaitu kejujuran. Media digital sangat berpotensi manipulatif konten yang sangat besar, menggoda para penggunanya bertindak tidak jujur. Pelanggaran hak cipta, plagiasi, manipulasi menjadi tantangan integritas.

Ketika bermedia digital, prinsip lain yang harus dipegang ialah tanggung jawab. Ini berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan akibat dari suatu tindakan yang diakukan di media digital.

“Bertanggung jawab, menanggung konsekuensi misalnya harus meminta maaf, harus klarifikasi, siap dikonfirmasi. Hal itu menjadi konsekuensi di ranah digital,” tambahnya.

Terakhir ialah kebajikan-kebajikan yang dapat diartikan terkait dengan nilai kemanfaatan kemanusiaan dan kebaikan ini yang perlu dipahami tentang prinsip dasar. Beberapa kasus yang cukup viral, tidak dapat dipercaya dan banyak yang mempertanyakan mengapa kebebasan di dunia virtual dapat menggeser etika. Saat produsen herbal terjerat UU ITE akibat mengunggah obat Covid-19 di YouTube musisi Anji. Kemudian ada dosen melapor ke polisi akibat difitnah. Belum lagi kasus dipecatnya anggota TNI akibat ulah istrinya di media sosial.

Webinar di Kabupaten Garut ini merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Literasi Digital Nasional 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Webinar kali ini juga mengundang narasumber seperti Asep Kambali Founder Komunitas Historia, Oktora Irahadi CEO Infina dan banyak lagi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***red

Leave A Reply

Your email address will not be published.