Cakrawala News
Portal Berita Online

Sebar Koin, Tradisi Tahunan Peringatan Maulid Nabi Warga Kebonsari Madiun

0 523

WMADIUN, CAKRAWALA.CO – Salah satu tradisi tahunan setiap memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, di Dukuh Sukorejo, Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun adalah menggelar Grebeg Maulud. Yakni berebut uang logam pecahan lima ratus rupiah, pohon jajanan dan kenduri, sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Seperti yang nampak pada Rabu (20/10/2021), sejak pagi warga berduyun-duyun mengantarkan “Ambengan” atau tumpeng nasi, sayur dan lauk pauk yang ditata diatas wadah dari batang daun pisang, dialasi dan ditutup dengan daun pisang, ke rumah salah seorang tokoh masyarakat.

Beberapa warga dipimpin tokoh masyarakat setempat, melantunkan syair shalawat barzanji diiringi alat musik “Gembrung” yang terdiri dari kendang dan rebana. Beberapa menyiapkan gunungan jajanan pasar dam buah-buahan, yang nanti usai didoakan akan dibagikan kepada warga sekitar yang hadir.

Tokoh masyarakat desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Abdul Majid (87) menuturkan, <span;>tradisi sebar uang yang mencapai nominal jutaan rupiah ini, sudah digelar secara turun temurun untuk memperingati maulud nabi. Tujuannya, sebagai ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas limpahan nikmat yang dirasakan.

“Tradisi ini ada sejak lama, sudah puluhan tahun lalu. Setiap tahun, sebagai ungkapan syukur kepada Sang Maha Pencipta yang sudah memberikan nikmat dan berkah kepada masyarakat khususnya di desa kami. Ada shalawat barzanji, kenduri, rebutan gunungan dan sebar koin,” kata Abdul Majid.

Tanpa harus berebut dan berkerumun, anak-anak Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, mendapatkan pembagian jajanan dari gunungan grebeg maulud

Tradisi berebut gunungan dan koin di Desa Kedondong ini mengadopsi dari acara peringatan Maulid nabi yang digelar di Keraton Surakarta. Tradisi ini dibawa oleh warga asal Kebonsari bernama Ngalimuntohar yang pernah menjadi guru spiritual Pakubuwana II.

Salah seorang warga Desa Kedondong, Darmaji mengatakan, jika perayaan grebeg maulud tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, karena dua kali perayaan ferakhir berada di tengah pandemi covid-19.  Menurutnya, jika biasanya setelah shalawat nabi dan membaca doa-doa, warga saling berebut isi gunungan jajanan pasar dan uang koin, maka tahun ini sangat berbeda.

Menurutnya, grebeg maulud tahun ini cenderung sepi, karena dampak pandemi. Jika tahun-tahun sebelumnya gunungan dan koin-koin itu diperebutkan, maka tahun ini dinantu panitia, isi gunungan dan uang koin dibagikan merata kepada warga yang terlebih dulu harus mengenakan masker dan antri berderet rapibagar tidak menimbulkan kerumunan dan desak-desakan.

“Ini tadi saya bawa ambengan, isinya nasi dan lauk, dikumpulkan di sini, dibacakan shalawat nabi dan didoakan, kemudian dimakan bersama-sama. Sisanya ada yang dibawa pulang untuk dimakan sama keluarga di rumah, kan biar dapat berkahnya juga. Tahun ini memang agak sepi, karena masih pandemi, kita semua juga menyadari. Ya, semoga setelah ini, korona segera selesai,” kata Darmaji.

Sementara itu, Sumini warga setempat mengaku bersyukur karena masih bisa mendapatkan uang koin dan jajanan dari acara grebeg maulud ini. Dia meyakini apa yang didapatnya ini adalah berkah, karena tradisi perayaan semacam ini hanya terjadi setahun sekali. Sumini yang mendapat uang logam sebesar Rp 30 ribu ini mengaku akan menggunakan uang tersebut untuk belanja harian dan sebagian lagi ditabung.

“Dapat jajanan pasar dan uang. Uangnya mau saya pakai belanja harian, sebagian lagi ada yang ditabung. Ya, mudah mudahan berkahnya sepanjang tahun,” tandasnya singkat. *(Ayu)

Leave A Reply

Your email address will not be published.